Surabaya (beritajatim.com) – Setelah 3 tahun vakum karena pandemi, kini Surabaya Internasional Jewellery Fair 2022 kembali dihelat di Surabaya. Pembatalan pemberlakuan pajak untuk setiap pembelian logam mulia membuat pengunjung antusia untuk kembali berinvestasi.
Hal ini diungkapkan oleh Iskandar Husin, Ketua Penyelenggara Acara, dikatakan vakum selama 3 tahun sebenarnya bukan hal baru bagi pameran terbesar ini. Sebab saat krisis moneter terjadi sekitar tahun 2008, pameran pun sempat dihentikan.
Saat ini pameran perhiasaan menjadi penyumbang ekport dari Jatim. Dan import sudah sampai ke 40 negara.
“Kami mencatat baru 20 tetapi ada satu pengusaha perhiasanya yang sudah mengirim ke 40 negara,” beber Iskandar
[berita-terkait number=”4″ tag=”emas”]
Dikatan mengatakan, bahwa saat ini sudah banyak pengusaha perhiasan yang berhasil melakukan ekspor produknya ke berbagai negara.
“Jadi dengan demikian, perhiasan yang diproduksi dari Indonesia itu secara desain dan produknya bisa diterima oleh masyarakat internasional,” ujarnya.
Sementara itu, Drajat Irawan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur (Jatim), menyatakan dukugannya pada pameran tersebut.
“Dengan adanya acara ini, semoga para pelaku usaha kita ini terus berkembang, sekaligus mudah-mudahan terjadi satu lompatan transaksi,” ucapnya saat menghadiri acara pameran itu.
Dalam kesempatan itu, ia juga yakin bahwa ke depan usaha perhiasan di Jatim akan terus mengalami kemajuan.”Kalau melihat ke depan, saya kira masih bagus prospeknya. Terbukti dalam kondisi pandemi Covid-19 kemarin, masih bisa bertahan dengan bagus,” tambahnya.
Ia berharap, pameran itu benar-benar mampu meningkatkan pangsa pasar dan angka penjualan bagi pengusaha perhiasan, tak terkecuali bagi pengusaha kecil dan menengah.[rea]






