Blitar (beritajatim.com) – Tiga kali mengalami kritis, A-A pasien anak gagal ginjal akut asal kecamatan Kesamben Kabupaten Blitar mulai membaik. Siswa kelas 3 Sekolah Menengah Pertama itu kini sudah mulai bisa berjalan meski belum bisa jauh.
Menurut orang tua A-A, sang anak sempat tiga kali kritis saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Saiful Anwar Malang. Kondisi yang terparah adalah saat sang anak Kritis pada waktu yang kedua, dimana sang dokter telah mendiagnosis A-A mengalami gagal napas.
“Anak kami sempat mengalami Kritis 3 kali, katanya dokter gagal napas, tapi alhamdulillah kini sudah mulai membaik,” kata Sri Rejeki, ibunda pasien gagal ginjal akut, Selasa (1/11/2022).
Beruntung berkat pertolongan dokter kini A-A kondisinya berangsur membaik dan bahkan telah diperbolehkan pulang. Meski demikian siswa kelas 3 Sekolah Menengah Pertama itu tetap diwajibkan untuk melakukan cuci darah secara rutin di rumah sakit.
Di usianya yang menginjak 14 tahun, A-A diharuskan oleh dokter untuk menjalani cuci darah sebanyak 2 kali dalam seminggu yakni di hari Rabu serta Sabtu. Hal itu dilakukan agar kondisi kesehatan siswa kelas 3 SMP itu segera membaik.
“Alhamdulillah ini sudah membaik, tapi ya gitu harus cuci darah hari Rabu sama Sabtu” imbuh orang tua A-A
Sebelum didiagnosis dokter mengidap gagal ginjal akut, A-A hanya mengalami batuk dan flu saja. Pihak orang tua juga langsung memeriksakan A-A ke klinik terdekat.
Siswa kelas 3 SMP itu sempat sembuh dari penyakit flu dan batuk yang dideritanya, sebelum akhirnya kambuh lagi. A-A kemudian dibawa orang tuanya ke rumah sakit untuk pemeriksaan yang lebih intensif.
Setelah mengikuti berapa rujukan, akhirnya A-A dirujuk ke Rumah Sakit Saiful Anwar Malang, dan disitulah ia terdiagnosis mengidap gagal ginjal akut. Total kini sudah 2 bulan lamanya A-A menjalani perawatan.
[berita-terkait number=”4″ tag=”gagal-ginjal-akut”]
“Awalnya hanya batuk biasa mas sama ada sesaknya kemudian saya periksakan ke klinik dan udah sembuh, namun kambuh kembali dan saya bawa ke beberapa rumah sakit hingga akhirnya sampai ke RSSA Malang ini,” ujar Sri Rejeki
Meski sempat di masa-masa Kritis namun Sri Rejeki bersyukur kini anaknya telah membaik. Kini ia dan sang anak memilih untuk menyewa sebuah rumah kos di Malang selama menjalani perawatan cuci darah.
Meski ia sudah rindu untuk pulang namun langkah itu diambil agar biaya yang dikeluarkan dapat lebih murah. A-A sendiri sejati kini harus mempersiapkan menghadapi ujian akhir sekolah tingkat SMP, namun ia dipersilahkan oleh sekolahnya untuk fokus pada penyembuhan penyakit yang diidapnya. [owi/nn/but]






