Pamekasan (beritajatim.com) – Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan, Tabri S Munir menegaskan sikap independen wajib dimiliki para insan pers dalam melaksanakan tugas profesi sebagai wartawan.
Hal tersebut disampaikan saat memberikan materi dalam kegiatan Pendidikan Melek Media yang digagas Forum Wartawan Pamekasan (FWP), di Aula Pendopo Wakil Bupati Pamekasan, Jl Jokotole Pamekasan, Kamis (27/10/2022).
Dalam kegiatan bertajuk ‘Pers dan Kesalahpahaman Publik’, diisi empat pemateri berbeda, meliputi Bupati Pamekasan, Badrut Tamam, Ketua PWI Pamekasan, Tabri S Munir, Ketua FWP, Ongky Arista UA, serta Akademisi IAIN Madura, Moh. Zuhdi.
Sementara peserta merupakan delegasi dari berbagai instansi, organisasi profesi dan lainnya di kabupaten Pamekasan. Seperti perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), pers, mahasiswa dan umum.
[berita-terkait number=”3″ tag=”pwi-pamekasan”]
Sikap independen ini, lanjut Tabri, harus ditanamkan dalam diri insan pers agar produk pers terhindar dari keberpihakan pada salah satu pihak tertentu.
“Independensi pers artinya tidak ada paksaan dan intervensi dari pihak manapun ketika wartawan meliput suatu peristiwa, sehingga tulisan hasil karya wartawan benar-benar sesuai dengan fakta di lapangan,” kata Tabri S Munir.
Selain itu, ia juga menyampaikan pentingnya mengutamakan rasa kemanusiaan dalam produk jurnalistik. Salah satunya seputar kebijakan yang tidak berpihak pada kepentingan masyarakat hingga pemberitaan ramah anak.
“Sebagai bentuk komitmen dalam menghasilkan produk jurnalistik dengan tagline kemanusiaan di atas segalanya, di antaranya dengan menyoroti perilaku oknum yang mengambil hak rakyat,” ungkapnya.
Salah satu sikap humanisme juga ditunjukkan dengan tidak menyebut identitas anak korban dalam sebuah peristiwa, seperti yang diatur dalam Pedoman Pemberitaan Ramah Anak atau PPRA.
“Hal ini seperti peristiwa siswa SMA Negeri di Pamekasan, yang naik ke atas genting, di mana wartawan yang lulus UKW tentunya tidak akan menyebut identitas dan alamat korban. Sebab jika dilanggar, nantinya justru akan berimbas pada masa depan korban,” jelasnya.
Kondisi tersebut juga berlaku untuk beragam prestasi yang diraih seorang anak yang dikhawatirkan berdampak pada aspek psikis. “Begitu juga dengan prestasi anak, jangan terlalu digeneralisir. Sebab kita tidak tahu masa depan mereka seperti apa,” pungkasnya. [pin/but]






