Surabaya (beritajatim.com) – Aksi Siti Erlina, wanita berpistol yang menerobos masuk ke Istana Negara di Jakarta Pusat, dinilai mengisyaratkan agar kelompoknya terlihat serta diperhatikan oleh masyarakat luas.
Psikolog Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya Novi Ekayati menyebut, bahwa ada sejumlah hal yang menyebabkan orang memiliki keinginan melakukan sesuatu, yang menurut dia itu benar.
Ia pun menilai, aksi Siti tersebut tidak menutup kemungkinan sebagai salah satu upaya untuk memperlihatkan eksistensi golongannya.
“Mungkin satu golongan tertentu tidak terperhatikan, sehingga dia ingin masyarakat luas itu tahu bahwa ada satu golongan tertentu yang perlu diperhatikan. Sehingga, dia berbuat hal seperti itu,” kata Novi, Kamis (27/10/2022).
“Jadi ini adalah cara mereka untuk (memperlihatkan) bahwa ‘kami ini ada’. Kalau kita lihat dari sisi baiknya, jadi ingin terlibat, ingin diperhatikan, ingin terlihat,” imbuhnya.
Di sisi lain, aksi nekad Siti Erlina itu juga dilatarbelakangi oleh berbagai macam faktor. Menurut Novi, kemampuan seseorang atau kelompok untuk memahami situasi juga menjadi faktor tindakan yang terbilang tak lazim tersebut.
“Misalnya satu kelompok itu memiliki satu aturan atau pemikiran yang baik, tentu saja dia, kalau ingin diperhatikan, dia mengaspirasikan dengan cara yang formal, yang sifatnya baik,” terang Novi.
Sebaliknya, jika suatu kelompok memiliki pemahaman yang sedikit menyimpang, maka bisa dipastikan terdapat kesalahan berpikir dalam memahami konsep-konsep bermasyarakat secara umum.
“Jika mereka memiliki pemahaman-pemahaman yang menurut mereka baik, namun tidak secara umumnya, itu berarti pemikiran-pemikiran kelompok itu ada yang salah dalam memahami konsep-konsep bermasyarakat secara umum,” bebernya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Surabaya”]
Sebagai informasi, BNPT mengungkap hasil penelusuran sementara terhadap Siti Erlina. BNPT menyebut wanita itu merupakan pendukung Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan berpaham radikal. Polisi juga telah menetapkan Siti Elina sebagai tersangka lantaran membawa pistol dan mencoba menerobos Istana Negara.
Terbaru, Densus 88 Antiteror Polri juga membeberkan peran suami dari Siti Elina, yang kini juga ditetapkan sebagai tersangka. Suami Siti Elina yang berinisial BU itu disebut menjadi simpatisan dari kelompok terlarang Negara Islam Indonesia (NII).
Menurut Densus 88, BU kerap mendampingi Bendahara NII. “Dia sering membantu atau mendampingi bendahara mereka,” ujar Kepala Bagian Bantuan Operasi (Kabag Banops) Densus 88 Kombes Aswin Siregar, Kamis (27/10/2022). [ipl/beq]






