Malang (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang mendata ada 9 kecamatan di wilayahnya terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor sejak 17 Oktober 2022 lalu.
9 Kecamatan di Kabupaten Malang terdampak bencana banjir dan tanah longsor. Meliputi : Kecamatan Ampelgading, Tirtoyudo, Dampit, Sumbermanjing Wetan, Gedangan, Pagak, Bantur, Kalipare serta Donomulyo..
Hingga kini, BPBD masih menghitung total kerugian akibat bencana alam yang terjadi di wilayah Malang Selatan itu.
Selain bencana banjir bandang dan tanah longsor, kejadian tersebut dibarengi dengan peristiwa tanah bergerak. Akibat bencana itu, selain fasilitas umum (fasum), ada ribuan rumah warga yang terdampak. Termasuk puluhan hektare lahan pertanian milik warga.
“Untuk nilai kerugian (akibat bencana alam, red) kami masih belum menghitung. Karena itu menjadi ranah dinas teknis terkait,” ungkap Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan, ketika ditemui di ruangannya, Selasa (25/10/22) sore.
Sadono menjelaskan, kerusakan jalan atau jembatan salah satunya, penghitungan kerugian menjadi ranah Dinas PU Bina Marga. Lalu kerusakan pada irigasi menjadi Dinas PU Pengairan.
Selain itu, lanjut Sadono, saat ini BPBD melalui tim Jitu Pasna (Kajian Kebutuhan Pasca Bencana) sedang mendata jumlah total rumah warga yang terdampak. Data yang masuk sampai Selasa (25/10/22) sore ini, total jumlah rumah warga yang rusak ada 1669 rumah.
Jumlah tersebut secara keseluruhan rumah warga yang terdampak berada di 9 kecamatan. Adapun rinciannya, rumah rusak ringan sebanyak 1620 unit, rusak sedang ada 37 unit dan rusak berat ada 12 unit.
“Data ini masih sementara, bisa bertambah dan bisa berkurang, karena data yang masuk itu dari kecamatan. Karenanya sekarang kami masih mendata ulang untuk memastikan jumlahnya,” terang Sadono.
Ia menjelaskan, butuh waktu untuk menghitung nilai kerugian akibat bencana. Sebab ada beberapa sektor yang masuk dalam perhitungan.
Contohnya seperti jalan penghubung putus. Dimana sebelumnya masyarakat yang menuju ke suatu tempat hanya menempuh jarak 1 kilometer melalui jalan penghubung, namun harus berputar hingga sejauh 4 kilometer.
“Berapa biaya yang dikeluarkan oleh warga jika harus berputar, itu masuk dalam perhitungan kerugian. Termasuk petani yang gagal panen karena lahannya terdampak juga harus dihitung nilai ketika masa panen ke depannya,” papar Sadono. (yog/ted)







