Ponorogo (beritajatim.com) – Setelah kejadian tanah longsor di salah satu ruang jalan selingkar Telaga Ngebel dan Desa Ngrogung, tanah longsor kembali terjadi di Kecamatan Ngebel.
Tanah longsor yang terjadi pada Minggu (23/10) malam itu, berada di Gunung Banyon masuk Desa Talun. Bahkan longsor susulan berpotensi terjadi, jika hujan dengan intensitas tinggi masih terjadi di seputar Gunung Banyon tersebut.
“Di puncak longsor pertama kali tadi malam itu masih banyak air dan material. Sehingga jika hujan dengan intensitas tinggi sangat berpotensi untuk terjadi longsor susulan,” kata salah satu anggota TRC BPBD Ponorogo, Hadi Susanto, Senin (24/10/2022).
Potensi longsor susulan terjadi, karena posisi pusat longsor itu merupakan retakan tanah yang lama. Retakan tanah di Gunung Banyon ini muncul pertama kali pada tahun 2016 lalu. Sejak saat itu, setiap musim penghujan diperkirakan timbul retakan. Sehingga pada Minggu malam kemarin terjadilah longsor.
“Sejak tahun 2016 lalu, pemukiman warga yang berada di lereng Gunung Banyon sudah berstatus zona merah,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”longsor-ponorogo”]
Dengan adanya tanah longsor tadi malam, ratusan warga yang berada dipemukiman lereng gunung tersebut mengungsi. Mereka mengungsi ke tiga tempat yang dirasa aman, yakni balai Desa Talun, Rumah Kepala Desa dan SDN 1 Talun.
BPBD Ponorogo fokus untuk melakukan pelayanan dasar untuk warga yang mengungsi. Mulai dari pendirian dapur umum, hingga pemberian selimut dan fasilitas kesehatan.
“Pengungsi masih kita data, ya ada 280 orang. Ini di zona merah masih ada 2 KK yang enggan mengungsi. Tetapi tetap kita himbau jika turun hujan dengan intensitas tinggi untuk cepat meninggalkan rumah, menuju tempat yang lebih aman,” pungkasnya. (end/ted)






