Malang (beritajatim.com) – Dua Pakar Ilmu Komunikasi, Suko Widodo dan Effendi Gazali bertemu dengan keluarga korban Tragedi Kanjuruhan di Kepanjen, Kabupaten Malang, Sabtu (22/10/2022) siang ini.
Pakar Komunikasi Politik Effendi Gazali mengaku, tidak bisa berkata-kata ketika melihat langsung kondisi Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang, tempat 134 nyawa manusia yang hilang akibat sepak bola.
Effendi juga sempat bertemu keluarga korban Tragedi Kanjuruhan yang sedang melakukan tahlilan di area Pintu 13. Effendi mengatakan, ada beberapa hal yang disampaikan keluarga korban kepada dirinya.
“Tadi sudah bertemu keluarga korban. Yang saya dapatkan siang hari ini, sepertinya tidak ada pendampingan yang terus menerus, mereka seperti terlepas satu sama lain,” kata Effendi, Sabtu (22/10/2022) siang.
Menurut dia, perlu ada pendampingan yang masif kepada keluarga korban Tragedi Kanjuruhan. Sebab, Tragedi Kanjuruhan bukanlah tragedi biasa yang bisa dalam sekejap dilupakan.
“Ini kan butuh kebersamaan, pendampingan, dalam jangka panjang,” tegasnya.
Terakhir, Effendi menerangkan, tragedi ini bukan hanya berkutat masalah ganti rugi. Namun, lebih dari itu yaitu soal pendampingan.
[berita-terkait number=”5″ tag=”tragedi-kanjuruhan”]
“Mereka (keluarga korban, red) bilang bukan soal, ya ada beberapa pihak yang memberikan bantuan. Tapi dalam hal pendampingan itu saya rasa belum ada,” pungkasnya.
Hal senada juga dituturkan Suko Widodo. Hal yang dia dapat tangkap dari kondisi keluarga korban ada mereka berharap jangan sampai pemerintah lepas tangan atas Tragedi Kanjuruhan.
“Saya bersama dengan guru saya, Pak Effendi Gazali seperti tidak bisa berkata apa-apa. Pesan temen temen Aremania ini jangan sampai pemerintah lepas tangan ya, karena korban ini tidak bisa diukur dengan material, nah itulah harapan kami,” pungkasnya. [yog/beq]






