Malang (beritajatim.com) – Salah satu korban Tragedi Kanjuruhan, Cahayu Nur Dewata (15) masih lupa ingatan. Ingatannya belum pulih seutuhnya usai mengalami malam yang memilukan pada Sabtu, (1/10/2022) silam.
“Ingatan yang setahun lalu akhirnya kembali ingat, tetapi lima menit kemudian kembali lupa. Malah sebelumnya selama tiga hari dia tidak ingat sama sekali. Ini mulai membaik tetapi harus terus diingatkan kembali memori-memori yang dulu,” kata kakak Cahayu, Yeni Puspita Eden (23) Sabtu, (22/10/2022).
Yeni menuturkan, saat ini yang terus dilakukan keluarga adalah melakukan terapi. Mulai dari akupuntur hingga terapi medis.
Sebab, selain daya ingatan Cahayu yang belum kembali normal, tangan kanannya susah digerakan. Kondisi mata Cahayu pun juga masih memerah akibat gas air mata.
“Dia ini sempat dirawat di rumah sakit. Tiga hari koma dan hilang ingatan di RS Wafa Husada, dan delapan hari dirawat di RSUD Kanjuruhan. Untuk pemeriksaan mata gratis karena dijamin pemerintah. Tapi kalau untuk terapi akupuntur membayar sendiri sekali terapi Rp250 ribu sampai Rp400 ribu,” papar Yeni.
[berita-terkait number=”5″ tag=”tragedi-kanjuruhan”]
Gerakan Keluarga Kalimantan melalui kegiatan GKK Social Club berkunjung ke rumah Cahayu dikawasan Janti, Kota Malang. Selain menjenguk, mereka juga memberikan santunan untuk meringankan biaya terapi atau pengobatan bagi Cahayu.
“Jangan dihitung besarnya, tapi semoga bantuan yang kami berikan ini bisa membantu meringankan beban dari para korban. Kita doakan bersama agar para korban bisa segera bangkit untuk menjalani hidup kembali,” kata Humas GKK Social Club, Rahajeng Pramesi.
Adapun GKK Social Club merupakan sebuah gerakan yang diinsiasi oleh Ny Bong Miau Lan, asal Kalimantan Barat yang peduli terhadap sesama. Berdiri sejak 2015, GKK Social Club tersebar di sejumlah kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Yogyakarta, Bandung dan Bali. Ada 3 korban Tragedi Kanjuruhan yang disambangi GKK Social Club adalah Cahayu Nur Dewata, Satria Bagus dan Alfiansyah. [luc/beq]






