Surabaya (beritajatim.com) – Sampah plastik masih menjadi masalah lingkungan yang menjadi perhatian. Ada perkiraan lebih dari 1,3 miliar ton sampah plastik yang mengalir ke lautan dan daratan dunia dalam dua dekade kedepan.
Walaupun ada berbagai komunitas global mengekang penggunaan plastik, namun ada sekitar 710 juta metrik ton plastik terbuang pada 2040.
Tentu saja, kejadian ini mengkhawatirkan berbagai pihak karena dapat merusak lingkungan. Maka dari itu, kita perlu melakukan upaya dalam menjaga lingkungan dengan mengubah penggunaan plastik menjadi kertas. Meskipun tidak semua pihak dapat beradaptasi dengan perubahan itu.
Tapi dari berbagai aksi atau upaya yang dilakukan, seorang mahasiswa mampu menciptakan hal unik sehingga menarik perhatian masyarakat karena memberikan dampak yang besar terhadap lingkungan. Dalam sebuah video dengan durasi 42 detik dari World Economic Forum, karya ini mampu memukau publik sehingga dijadikan sebuah inovasi baru.
Mahasiswa dari Islandia membuat semacam botol ramah lingkungan dengan bahan alga jelly. Benda ini memang tidak bertahan lama bahkan mudah ‘mengurai’ ketika air diminum.
[berita-terkait number=”5″ tag=”cara”]
Inovasi Botol dari alga jelly mudah terurai sendiri dan dapat dimakan
Cara membentuknya dengan mendinginkan jelly pada cetakan berbentuk botol. Maka dari itu perlu adanya cairan untuk mempertahankan bentuknya. Bentuk botol memiliki desain yang unik. Botol yang kosong dan rusak berarti harus dibuang atau memakannya.
Beberapa orang mungkin belum percaya jika alga atau ganggang jelly dapat dikonsumsi. Keduanya memiliki protein nutrisi seperti vitamin B12 dan zat besi. Keunikan lainnya, botol tu dapat terurai sendiri.
Kemunculan ide dari sampah yang dihasilkan
Ari Jónsson, si pembuat karya sudah mempelajari kekuatan dan kelemahan bahan dalam membuat botol yang tidak tersalurkan berkontribusi pada limbah TPA. Selain itu, Jónsson mengatakan dia terinspirasi setelah membaca mengenai jumlah sampah yang dihasilkan.
Kemungkinan pada 2050, laporan forum ekonomi dunia menyampaikan jika ada lebih banyak plastik daripada ikan di laut sehingga plastik perlu diganti dengan bahan mudah terurai untuk menghentikan pembuangan limbah secara berlebihan. (prd/nap)






