Jember (beritajatim.com) – Berita ekonomi bukan sekadar angka. Tugas seorang jurnalis adalah membuat sebuah berita mudah dipahami dan relevan saat dibaca oleh publik.
“Berita ekonomi dan bisnis memang berkaitan dengan angka. Namun, ia juga menyangkut kehidupan manusia,” kata Aditya Laksmana Yudha, redaktur senior Investor.id, acara Capacity Building Media yang digelat Otoritas Jasa Keuangan Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (8/10/2022).
Aditya menekankan perlunya jurnalis mengasah kepekaan untuk menggali sisi ketertarikan manusiawi dari sebuah fakta ekonomi. Salah satunya adalah memberitakan pengusaha mikro kecil menengah. Dengan mengangkat profil mereka, media massa bisa mendorong pembiayaan ke sektor-sektor produktif khas daerah yang potensial dan menginspirasi pembaca untuk menumbuhkan kewirausahaan.
Angka statistisk jelas masih dibutuhkan. Ini karena karakter berita ekonomi adalah menunjukkan tren tertentu dari kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi barang/jasa/”Tren ditunjukkan dengan data kuantitatif yang dikomparasikan. Reporter bisa melakukan self-analytic atas gejala/tren yang terjadi sehingga bisa menciptakan isu sendiri,” kata Aditya.
Menurut Aditya, mengutip statistik akan jauh lebih bermakna jika ditempatkan dalam konteks komparasi. “Makna yang sebenarnya justru muncul dari nilai relatifnya terhadap elemen pembandingnya,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”beritajatim”]
Perbandingan bisa dilakukan antarperiode, antarkawasan , maupun antarsektor. “Justru dengan membandingkan, akan diperoleh sudut pandang berbeda yang mungkin lebih menarik,” kata Aidtya.
Namun angka statistik ini harus mudah dicerna pembaca. “Jangan sekadar menyajikan angka statistik, tapi jelaskan apa makna di balik angka tersebut,” kata Aditya. Dengan demikian sebuah berita ekonomi akan memiliki nilai literasi bukan hanya merepetisi pernyataan narasumber. [wir/but]






