Malang (beritajatim.com) – Peneliti Imparsial Hussein Ahmad meminta kepada Panglima TNI Jendral Andika dan Kapolri Listyo Sigit Prabowo untuk berkantor di Kabupaten Malang mengusut meninggalnya 131 fans Arema FC.
“Saya tidak habis pikir kalau Kapolrinya masih bisa tersenyum. Saya lihat dia tersenyum di HUT TNI, padahal dia punya anak buah yang menyebabkan matinya orang banyak,” jelas Hussein saat konferensi pers Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan bersama Arema soal tragedi di Stadion Kanjuruhan pada Rabu (p5/10/2022) siang.
Hussein menilai Kapolri mestinya berada di Malang, berkantor di Malang dan tidak perlu ikut HUT TNi. “Termasuk Panglima TNI harusnya turun ke Malang melakukan investigasi secara menyeluruh,” jelasnya menegaskan.
Dia juga menyinggung soal tragedi yang terjadi pasca laga Arema kontra Persebaya ada video aksi kekerasan aparat, baik oleh polisi maupun tentara yang tersebar di jagat media sosial dan jadi sorotan.
“Selain penggunaan kekuatan yang berlebihan dalam pengendalian massa oleh polisi dengan gas air mata yang menewaskan ratusan orang, polisi dan tentara juga terekam memukul, mengeroyok, hingga menendang suporter yang masuk ke lapangan. Saya kira kalau presiden mau serius, negara mau serius, harus ada evaluasi menyeluruh terhadap pimpinan pada kedua institusi itu,” terang Hussein lebih lanjut.
[berita-terkait number=”4″ tag=”kericuhan-laga-arema-vs-persebaya”]
Apalagi, menurut peneliti Impresi itu, mengacu dari data Kementerian PPPA, total 33 anak jadi korban meninggal pada tragedi itu. Bahkan dia mengklaim korban di Kanjuruhan, jauh lebih banyak dibandingkan data konflik bersenjata di Papua. “Kejadian ini lebih parah daripada yang terjadi di Papua,” jelas Hussein. (dan/ted)






