Malang (beritajatim.com) – Tembakan gas air mata di laga Arema versus Persebaya, Sabtu (1/10/2022) malam, berdampak pada tewasnya 125 suporter Arema. Kejadian itu juga menewaskan 2 Anggota Polri. Serta melukai 180 orang yang kini dirawat di rumah sakit Wava Husada, Teja Husada, RSUD Kanjuruhan, Hasta Brata dan RSSA Kota Malang.
Kapolda Jatim Irjen Pol Nico Afinta menjelaskan, penyebab kericuhan karena penonton kecewa atas kekalahan tim Arema melawan Persebaya. “Terjadi kekecewaan penonton yang melihat tim kesayangannya tidak pernah kalah selama 23 tahun bertanding di kandang sendiri. Namun pada malam ini mengalami kekalahan,” ujar Nico, Minggu (2/10/2022) pagi di Mapolres Malang.
Rasa kekecewaan itulah yang memicu sebagian orang masuk ke dalam lapangan seusai pertandingan. “Untuk melakukan pencegahan agar tidak ke tengah lapangan, tim pengamanan melakukan pencegahan dengan gas air mata. Karena sudah anarkis, sudah mulai menyerang petugas, merusak mobil, dan karena gas air mata mereka keluar pada satu titik, pintu keluar di pintu 10 atau 12,” pungkas Nico.
Berbahayakah gas air mata bagi manusia? Gas air mata merupakan senjata kimia yang berupa gas dan digunakan untuk melumpuhkan dengan menyebabkan iritasi pada mata atau sistem pernapasan.
Gas air mata, bisa disimpan dalam bentuk semprotan ataupun granat. Alat ini sangat lazim digunakan oleh kepolisian dalam melawan kerusuhan dan dalam penangkapan. Namun, gas air mata sebenarnya ada batas expired. Seorang petugas keamanan yang biasa mengamankan aksi massa menuturkan, gas air mata ada batas penggunaannya. Istilahnya kadaluwarsa.
“Ada batas expirednya. Gas air mata itu kalau terkena wajah, jangan pernah di sentuh dengan tangan. Jangan diusap usap. Malah panas dan perih,” tutur Dito petugas keamanan yang meminta namanya disamarkan.
Dito bercerita, cara efektif menghindari gas air mata, cukup menutup seluruh bagian kepala, wajah sampai leher menggunakan kain kaos. “Kain kaos ini kan seratnya bagus atau rapat. Padat. Sementara kalau kemeja agak tipis ya. Jadi kalau pakai kaos enak, cukup basahi kaos dengan air, lalu tutup bagian kepala yang rapat,” ujarnya.
Karena partikel gas air mata bentuknya sedikit lebih besar, tambah Dito, jika wajah dan kepala sudah tertutupi, akan susah mengenai kulit wajah.
“Jangan mengusap gas air mata dengan tangan. Nanti malah panas dan bisa melepuh. Karena itu gas sangat panas. Atau dengan cara mengguyurkan air ke bagian yang terkena gas air mata, tapi jangan sampai di gosok gosok. Bisa tambah perih,” tuturnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”arema-vs-persebaya”]
Karena panas dan perih itulah, diduga, partikel gas air mata yang ditembakkan aparat keamanan, membuat suporter panik dan kalang kabut. Kepanikan tinggi dan rasa panas serta perih dibagian wajah itulah, yang membuat seseorang bisa sekuat tenaga menyelamatkan diri.
“Jika ada gas air mata usahakan tenang. Jangan panik. Tinggal tutup wajah dengan kaos yang sudah di lumuri air dengan rapat-rapat. Sebab kalau sudah terpercik partikel gas air mata, mesti panik. Lari mesti kemana mana, nabrak nabrak gak karuan,” pungkas Dito. [yog/but]






