Tak banyak kebanggaan lahir di Ciudad Juárez. Namun warga kota yang terletak di Meksiko itu seperti ditakdirkan menemukan kebahagiaan dan kehormatan pada sebuah klub sepak bola: Indios. Ini bukan sekadar sebuah tim di atas lapangan hijau, karena kadang membutuhkan nyali untuk mencintainya. ‘Amor por Juarez.’
Tahun 2005, seorang pengusaha radio dan pebisnis jasa kontruksi sukses Francisco Ibarra ingin memberikan sekadar kebahagiaan kepada kota kelahirannya. Ini sebuah kota yang tengah tumbuh menuju kemakmuran dengan ratusan ribu pendatang baru.
Sepak bola menjadi pilihan Ibarra. Sebuah pilihan yang tepat, karena warga Juárez harus menempuh 16 jam perjalanan darat untuk bisa ke Monterrey, sebuah kota terdekat yang memiliki klub sepak bola profesional. Ibarra membeli klub kecil Pachucha Juniors dari kota lain dan mengubah namanya menjadi Indios pada 2005.
Jurnalis Amerika Serikat, Robert Andrew Powell, yang meliput hidup dan matinya Indios dan menuangkannya dalam buku berjudul ‘This Love Is Not for Cowards: Salvation and Soccer in Ciudad Juárez’, menjelaskan betapa bermaknanya kehadiran klub itu.
“Indios melakukan lebih dari sekadar bermain sepak bola. Pemilik dan bahkan pemainnya cenderung menganggap apa yang mereka lakukan sebagai kerja sosial. Indios sangat berarti bagi Juárez,” kata Powell dalam sebuah wawancara.
Mantan penjaga gawang Indios, Alonzo Jiménez yang juga warga asli Juárez, menyebut klubnya sebagai satu-satunya hal positif terkait kota itu. “Indios membuat kebersamaan, membuat banyak orang tersenyum dan melupakan masalah hidup mereka walau hanya 90 menit setiap pekan,” katanya.
Ibarra menciptakan keajaiban bersama Indios. Mereka diperkuat pemain-pemain tak terkenal. Namun dalam waktu hanya tiga tahun, klub ini sudah naik ke kasta tertinggi sepak bola Meksiko. Kini warga Juárez punya sesuatu yang membuat kota mereka tak hanya diidentikkan dengan kekerasan.
Mantan humas Indios, Ramón Morales, mengatakan, warga Juárez mengidentifikasikan diri dengan klub itu. “Bahkan saat mereka kalah, Indios cepat bangkit dan bekerja keras. Klub ini mewakili kami semua di sini yang berjuang melawan arus untuk bertahan,” katanya.
Tak mudah memang hidup di kota seperti Juárez. Sebanyak 1.600 orang tewas selama 2008 dan meningkat menjadi 2.700 orang pada tahun berikutnya. Sebagian besar, untuk tidak mengatakan semua, terkait dengan peredaran obat bius dan perang antargeng. Indios pun menjadi korban peperangan itu. Pedro Picasso, pelatih tim yunior Indios, mati bersama pamannya, gara-gara sang paman menolak untuk diperas oleh para bandit.
Ujung tombak Indios sekaligus pemain Paraguay, Salvador Cabanas, sempat kritis, setelah dibedil di bagian kepala oleh sebuah geng di dalam bar. Penembakan Cabanas ini dramatis dan edan. Seseorang menodongkan pistol dan berkata kepada Cabanas: saya ingin membunuh Anda. Cabanas mempersilakan, dan…dor… pelor menyodok kepalanya.
Seharusnya Cabanas tak bisa bermain sepak bola lagi. Namun, ia ternyata masih bisa pulih dan beraksi di atas lapangan hijau dengan risiko kehilangan nyawa. Dokter tidak bisa sepenuhnya mengambil pelor itu dari kepala Cabanas, karena justru akan membahayakan jiwa sang pemain. Namun Cabanas akan mengakhiri hidupnya, jika nekat mencoba menanduk bola yang datang kencang.
Para suporter Indios menamakan diri mereka El Kartel atau Karteleros. Kendati memilih nama yang mengerikan, menurut Powell, mereka berusaha keras agar tidak terkait dengan kekerasan. Ini suporter garis keras dalam arti sesungguhnya: mereka harus cukup punya nyali untuk datang ke stadion, kendati dalam situasi keamanan yang mengancam.
Mei 2008, Indios berhasil menembus final liga dan selangkah lagi promosi ke kasta utama. Selama setahun terakhir, kekerasan semakin meluas di Juárez , menyusul langkah pemerintah Meksiko memerangi kartel narkoba. Baku tembak terjadi d mana-mana, antara polisi dengan para penjahat.
Di tengah situasi ini, Indios harus bersiap menghadapi partai final. Sehari sebelum pertandingan, 12 orang terbunuh. Akhir pekan itu tak akan aman bagi siapapun dan diperkirakan akan sangat berdarah-darah. Peringatan pun dikeluarkan oleh polisi dan pemerintah: jangan keluar rumah!
Namun peringatan itu diabaikan. Partai terakhir dimenangkan oleh Indios. Orang-orang memakai seragam merah Indios keluar rumah, memenuhi jalanan, untuk merayakan gelar pertama yang mampir ke kota mereka. Tak ada ketakutan dalam diri mereka. “Mereka membuktikan diri lebih besar daripada kartel-kartel narkoba,” tulis Powell.
Judul buku Powell benar-benar berhasil menggambarkan bagaimana relasi warga kota dengan Indios: This Love Is Not for Cowards. Rasa cinta ini bukan untuk mereka yang pengecut. Mencintai Indios adalah bagian dari keberanian merayakan hidup.
Namun Indios berumur pendek. Di liga primer, kasta tertinggi Meksiko, klub ini menjadi bulan-bulanan klub lain dan kembali terdegradasi. Manajemen klub gagal mendatangkan pemain baru, karena reputasi Juarez yang menyeramkan. Siapa mau mati sia-sia di tangan para bandit tak waras?
Tahun 2011, Indios mengalami kesulitan finansial. Para pemain tak lagi menerima gaji rutin. Ibarra menjual klub itu kepada pengusaha misterius. Tak butuh waktu lama, Indios pun gulung tikar. Tak satu pun bisa menyelamatkannya, termasuk para suporter. Juárez pun harus merelakan kebanggaan terbesarnya mati.
Tak ada lagi keriuhan di Juárez. Tak ada lagi nyanyian-nyanyian khas suporter latino dalam memberikan semangat para pemain. Kini stadion lengang. Arak-arakan berbaju merah pergi entah ke mana. Namun jejak-jejak kehadiran Indios masih bisa dirasakan oleh Powell: bus sekolah berwarna merah, putih, dan hitam, slogan di dinding jalan tol, dan sebuah spanduk’Case de los Indios’ masih tergantung di luar stadion Benito.
“Ada lubang dalam hidup kami,” kata Saul Luna, seorang suporter, menggambarkan bagaimana duka menyelimuti warga Juárez.
Indios telah mati, namun El-Kartel menolak menyerah dan membubarkan diri. Ribuan suporter klub itu, sebagaimana warga di kota itu, tak mau mematikan harapan untuk melihat bangkitnya klub mereka. Mereka percaya, suatu saat keajaiban akan datang.
Dalam film futuristik filsafat Matrix, sang tokoh Morpheus menegaskan bahwa perubahan akan tiba, cepat atau lambat: it’s not a matter of hope, it’s a matter of time. Ini hanya masalah waktu. Sebagaimana kata-kata bijak Jawa: menanti wolak-waliking zaman, menunggu berbaliknya zaman dan arah takdir. [wir/but]
Artikel ini pernah diterbitkan dengan judul Juárez dan Matinya Klub Sepak Bola pada 18 Juni 2014






