Surabaya (beritajatim.com) – Barang yang digunakan oleh masyarakat sehari-hari, sebisa mungkin diharapkan dapat dimanfaatkan kembali. Entah dipakai beberapa kali atau bahkan diolah kembali. Tentunya hal ini untuk mengurangi presentase limbah sampah.
Biasanya pengelolaan sampah menggunakan metode 3R atau Reuse, Reduce, dan Recycle. Namun, tidak semua barang ramah lingkungan cocok untuk didaur ulang, seperti barang sehari-hari ini;
Hardcover buku
Mungkin jika lembaran buku masih bisa diolah dengan metode 3R. Namun, untuk hardcover buku nyatanya tidak semudah itu. Karena umumnya hardcover buku terbuat dari bahan plastik dan kulit. Belum lagi perekat buku yang menggunakan lem, hal tersebut juga dapat mempersulit proses daur ulang.
Kuitansi
Setelah melakukan transaksi, biasanya kamu akan diberikan kuitansi atau bukti pembayaran. Namun, mungkin kamu tidak tahu jika bahan kertas kuitansi dilapisi Bhispenol A (BPA). Di mana senyawa tersebut tidak dapat didaur ulang. Selain itu dapat berdampak buruk bagi kesehatan.
Stiker
Setiap bahan stiker pasti dilapisi dengan lem, dan perekat inilah yang dapat menyumbat mesin daur ulang. Bahkan, ada beberapa bahan stiker yang tidak hanya sulit untuk didaur ulang, melainkan juga berbahaya bagi lingkungan, salah satunya ialah stiker vinil.
Kertas pembungkus kado
Penggunaan kertas kado cenderung digunakan hanya untuk sekali pakai. Selain jarang dimanfaatkan kembali, ternyata sampah kertas kado juga tidak dapat didaur ulang. Hal ini karena kertas kado dilapisi dengan bahan mengkilap dan dilaminasi. Jadi, bahan pembungkus yang disarankan ialah yang berbahan koran.
Kantong kresek atau plastik
Meskipun kantong plastik terbuat dari bahan terbarukan, seperti jagung, protein kedelai, dan selulosa. Bahkan, mungkin bisa diurai menjadi kompos, tapi plastik yang dianggap ramah lingkungan tersebut juga dapat mengganggu proses daur ulang.
Tak ayal jika masyarakat sebaiknya memperhatikan betul penggunaan barang sehari-hari. Karena jika terlalu banyak limbah sampah yang tidak dapat didaur ulang, tentu dapat berdampak buruk bagi lingkungan, tapi juga kesehatan. (fyi/ian)






