Surakarta (beritajatim.com) – Museum Tumurun yang berada di Jalan Kebangkitan Nasional 2/4, Sriwedari, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta menggelar pameran tunggal seniman Aditya Novali. Pameran tunggal bertajuk ‘WHY’ ini berlangsung mulai 26 Maret hingga 26 September 2022.
Sebanyak delapan proyek ditampilkan Aditya. Delapan karya Aditya dipamerkan dalam dua kelompok, pada saat pertengahan akan ada sebuah karya keluar dan satu karya lainnya dimasukkan. Seluruh karya instalasi seni tersebut tersaji di lantai dua Museum Tumurun.
Salah satunya karya berjudul Conversation Unknown yang menjadi menyambut pengunjung dengan daya tarik tampilannya. Selain Conversation Unknown, karya lain yang dipamerkan yaitu Painting Sense, Caprice, When I Search…, Significant Other: Her and His World(s), NGACO: Solution for Nation, Tea: One Ceremony, dan Structures of Representation.
Ke delapan seri karya tersebut cukup komprehensif untuk dapat menggambarkan perjalanan artistik Aditya yang berlatar pendidikan arsitektur dan desain produk konseptual itu sepanjang kariernya dalam dunia seni rupa. Pameran ini merupakan pertama kalinya sang seniman menggelar pameran di kota kelahirannya.
Tour guide Museum Tumurun, Aditya Nugroho menjelaskan, karya berjudul ‘Conversation Unknown’ yang berisi 3.500 wajah yang dilukis di atas plexiglass. “Ini merupakan karya dari Aditya Novali yang berisi foto pengunjung yang ada di pameran dan galeri,” ungkapnya, Sabtu (10/9/2022).
Selama 40 tahun, lanjut Aditya, foto-foto para pengunjung pameran dan galeri tersebut dikumpulkan oleh seorang dokter. Oleh Aditya Novali, dalam satu hari ia melukis foto-foto di atas plexiglass sebanyak 150 wajah. Dari hasil karya tersebut adalah seni itu tidak ada pembatas.
“Seni itu sebagai media pemersatu, tidak ada perbedaan. Ada juga kurator, penulis, jurnalis, kolektor, kritikus seni, termasuk artis. Karena pengunjung di dunia seni dan pameran tidak serta merta dari orang seni. Pameran ini sudah mulai 26 Maret lalu sampai 26 September besok,” katanya.
Tour guide Museum Tumurun, Sofyan menambahkan, Tumurun berasal dari kata turun-temurun. “Owner Museum Tumurun adalah Bapak Iwan Kurniawan Lukminto, beliau juga merupakan owner dari PT Sri Rejeki Isman (SRITEX). Museum Tumurun merupakan milik pribadinya beliau,” tambahnya.
Museum Tumurun yang berdiri tahun 2018 tersebut terinspirasi dari koleksi dari ayah dari Iwan Kurniawan Lukminto yakni Alm Lukminto. Salah satu koleksinya yakni sebuah mobil Mercy keluaran tahun 1973. Setelah Alm Lukminto meninggal, mobil tersebut tidak ada yang merawat.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Mojokerto”]
“Melihat itu, Pak Wawan (Iwan Kurniawan Lukminto) menyayangkan karena mobil tersebut merupakan mobil kesayangan ayahnya. Karena tidak ada yang merawat sehingga Pak Wawan terinspirasi dan membuat space yang cukup besar untuk menampung koleksi sangat ayah dan koleksi Pak Wawan,” ujarnya.
Untuk masuk ke dalam Museum Tumurun ada tiga peraturan yang harus diperhatikan pengunjung yakni pengunjung tidak boleh menyentuh karya seni dengan alasan apapun, jaga jarak dengan karya seni jangan sampai tersebut oleh yang lain dan dipersilahkan mengambil foto namun lampu flash dimatikan.
Museum Tumurun sendiri saat weekend membuka kunjungan hingga empat sesi. Dalam setiap kunjungan dengan 60 orang pengunjung dengan durasi satu jam. Untuk mengunjungi Museum Tumurun, pengunjung sama sekali tidak dipungut biaya tiket masuk.
Namun pengunjung harus registrasi kunjungan terlebih dahulu secara online di website resmi Tumurun Museum (www.tumurunmuseum.org). Setelah itu, pengunjung akan mendapat konfirmasi tiket kunjungan ke Museum Tumurun melalui email yang telah dituliskan saat mendaftar. [tin/beq]








