Surabaya (beritajatim.com) – Pada masa Perang Dunia II, Inggris Raya diselimuti dengan suasana cukup mencekam, kala Jerman terus membombardir London, Ibu Kota Inggris. Hujan bom tidak bisa terelakkan.
Atas dasar itu, salah-seorang pejabat Inggris mengusulkan kepada istri, Raja George VI, yang tak lain adalah ibu dari Ratu Elizabeth, agar kedua putrinya, yakni Elizabeth dan Margaret terbang ke Kanada untuk sementara.
Namun, usulan itu ditolak oleh Ibu Elizabeth. Saat itu, Elizabeth baru berusia 14 tahun, sementara adiknya empat tahun lebih muda darinya. Itulah awal dari keterlibatan Elizabeth yang kala itu bergelar Yang Mulia Elizabeth dari York.
Di usia yang terbilang muda itu Putri Elizabeth mulai aktif di beberapa kegiatan, termasuk dengan melakukan siaran radio untuk memberi semangat kepada masyarakat Inggris yang saat itu harus menghadapi Perang Dunia II.
Di usianya yang ke-18, Putri Elizabeth mulai bertindak sebagai salah-satu lima Konsuler Negara yang mewakili Britania Raya. Ia akan pergi mewakili Raja George VI, jika sang ayah berhalangan hadir dalam suatu acara.
Tidak hanya itu, ia tercatat sebagai wanita dalam Kerajaan Monarki pertama yang terlibat aktif dalam militer saat Perang Dunia II. Selain menempuh pendidikan pribadi di lingkungan istana, pada saat Perang Dunia II, Putri Elizabeth juga dilatih menjadi sopir dan mekanik. Bahkan ia mendapat promosi sebagai Komandan Junior Kehormatan.
Saat perang dunia berakhir, Putri Elizabeth dan saudaranya, Putri Margaret berbaur dengan masyarakat untuk merayakan berakhirnya peperangan. Mereka berbaur di tengah masyarakat dengan menyamar sebagai masyarakat sipil.
Setelah itu, di tahun 1946, Elizabeth resmi bergelar Wales Gorsedd of Bards, yang berarti ia menjadi penerus tetap tahta sang ayah. Lalu, di tahun berikutnya Putri Elizabeth menikah dengan Pangeran Philip.
Hubungan ini sempat mendapat pertentangan dari berbagai pihak, pasalnya meski Philip seorang Pangeran, namun ia tidak memiliki rumah dan kerajaan. Namun tih pada akhirnya pernikahan itu disetujui oleh keluarga kerjaan.
[berita-terkait number=”5″ tag=”sejarah”]
Tidak butuh waktu lama, hanya berselang setahun dari pernikahannya Putri Elizabeth melahirkan anak pertamanya, Pangeran Charles, saat ini jadi Raja Charles III, menggantikan sang ibu, Ratu Elizabeth. Anak kedua mereka lahir di tahun 1950, seorang putri cantik yang diberi nama Putri Anne.
Dalam masa bahagia itu, tiba-tiba Raja George VI, mengalami penurunan kesehatan. Saat itulah sebagai pewaris tahta kerajaan Inggris, Putri Elizabeth mulai aktif dalam berbagai acara kunjungan diplomasi, menggantikan sang ayah.
Di bulan ke sepuluh tahun 1951, saat ia melakukan kunjungan ke Kanada menemui Presiden Truman, sekretaris pribadinya membawa sebuah surat dari Sang Raja untuk putri sulungnya. Surat itu adalah surat berisi deklarasi untuk naik tahta, jika sewaktu Putri Elizabeth berada dalam kunjungan dan sang ayah, Raja George VI meninggal.
Isi deklarasi itu akhirnya tidak bisa ditolak, saat di tahun 1952, Raja George VI, tutup usia. Dan detik itu juga Putri Elizabeth berganti gelar sebagai Ratu Elizabeth di usianya yang baru menginjak 25 tahun. (Jhn/ian)






