Gresik (beritajatim.com)- Jalan di Kabupaten Gresik belum semuanya mulus. Pasalnya, berdasarkan data Dina Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPU-TR) setempat, disebutkan masih ada 512,16 kilometer jalan masuk kategori mengalami kerusakan ringan maupun berat.
Sementara ruas jalan poros desa, dan jalan lingkungan tercatat ada 212 ruas. Dimana, 36 persen diantaranya mengalami kerusakan.
Terkait dengan kerusakan jalan itu, bupati bersama DPUTR Gresik melakukan pertemuan dengan perwakilan kepala desa melalui Ketua AKD Kecamatan dan juga para camat. Tujuannya sebagai langkah pemerintah daerah dalam upaya sinkronisasi bersama dengan pemerintah desa.
[berita-terkait number=”5″ tag=”jalan-rusak”]
“Kita tahu antara pemerintah daerah dan pemerintah desa memiliki kewenangan masing-masing. Sehingga, perlu adanya sinkronisasi,” ujar Bupati Fandi Akhmad Yani, Rabu (7/09/2022).
Kerusakan jalan itu, DPUTR melakukan simulasi kebutuhan anggaran yang ditaksir sekitar Rp 2 triliun. Dengan skema meliputi peningkatan kemantaban ruas jalan kabupaten, peningkatan akses dengan memperhatikan sektor ekonomi, pariwisata dan industri serta peningkatan konektivitas antar wilayah.
Dari simulasi itu, penanganan perbaikan jalan ini tidak serta merta tuntas dalam jangka waktu dekat. Namun, membutuhkan sistem perbaikan berkelanjutan.
“Melihat besarnya kebutuhan anggaran, tidak mungkin perbaikan ini tuntas dalam jangka waktu yang pendek dengan keterbatasan anggaran yang ada. Maka kita lihat skala prioritas dengan alokasi anggaran sebesar kurang lebih Rp 300 miliar pertahun,” ungkap Fandi Akhmad Yani.
Sementara itu, Kepala Dinas DPUTR Achmad Hadi menyatakan untuk perbaikan jalan poros desa, bisa menggunakan dana yang bersumber dari dana BK yang dioptimalkan untuk desa-desa.
“Kami sudah melakukan pemetaan titik ruas jalan mana yang dilakukan pengaspalan, dan titik ruas jalan mana yang di beton. Skema ini untuk peningkatan akses bagi wilayah yang bergerak di sektor industri, pariwisata atau kegiatan ekonomi lainnya,” tandasnya. [dny/kun]






