Surabaya (berutajatim.com) – Bagi banyak orang, membicarakan seks berarti membawa suasana canggung dalam obrolan. Apalagi jika diposisi orangtua yang membahas edukasi seksualitas dengan anak-anak. Terkadang perasaan tidak nyaman itu muncul karena bingung menjawab pertanyaan yang tiba-tiba dilontarkan mengenai seks.
Banyak orang Indonesia yang belum memiliki pendidikan seksualitas yang baik hingga umur dewasa, sehingga tidak tahu bagaimana cara menjelaskan topik, hasil, dan ide yang terkait dengan seksualitas. Atau orang-orang memiliki pemahaman mengenai seksualitas tetapi hanya mencakup hal-hal umum atau bahkan ‘misinformation’. Seperti ketakutan dan informasi terbatas yang hanya berfokus pada reproduksi.
Beberapa orangtua bahkan khawatir berlebihan jika memergoki anak mereka mulai berbicara tentang seks atau berperilaku yang mengarah kepada hal tersebut. Jadi apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua, pengasuh atau guru agar bisa membuat suasana yang tidak canggung ketika membicarakan topik seksualitas?
Berikut tips agar tidak canggung dalam edukasi seksualitas kepada anak:
1. Cari topik yang pas untuk memulai obrolan seksualitas
Mulailah dengan topik yang dirasa nyaman untuk memulai obrolan. Seperti membahas hubungan yang sehat, anatomi tubuh atau pentingnya persetujuan dari diri sendiri dalam segala hal.
Ketika fokus anak-anak sudah tertuju kepadamu, mulailah memberikan informasi yang masih berhubungan dengan topik awal. Contohnya, ajari anak-anak untuk bertanya meminta persetujuan terlebih dahulu sebelum menyentuh bagian tubuh orang lain. Jika tidak mendapatkan persetujuan maka tidak boleh memaksakan menyentuh. Aksi ini adalah etika dasar untuk menghargai perspektif orang lain terhadap anggota tubuhnya.
2. Pahami topik seksualitas sesuai dengan usia anak-anak
Anak-anak mempunyai kemampuan yang berbeda-beda dalam menangkap informasi. Untuk anak-anak di usia balita hingga 6 tahun, ajari mereka untuk memahami bagian tubuh mana yang tidak boleh disentuh atau dilihat orang lain. Jika ada orang yang memaksa untuk memegang atau melihat maka ajari anak untuk melaporkannya kepada orang-orang terdekat.
Kemudian, mulailah membahas tentang persetujuan, hubungan persahabatan yang sehat, identitas gender, identifikasi bagian tubuh dan keragaman dalam struktur sosial ketika anak sudah bisa bersosialisasi lebih luas lagi. Biasanya anak akan mulai belajar bersosialisasi ketika umur 7 tahun, terutama bersosialisasi di sekolah dasar.
Ketika anak sudah memasuki usia remaja carilah topik yang lebih kompleks namun sampaikan dengan bahasa yang sederhana. Seperti memahami konsep “tubuh saya adalah milik saya” dan obrolan tentang aktivitas seksual dan prinsip yang harus dipegang dalam pergaulan.
3. Bukan hanya sekali, lakukan obrolan mengenai seksualitas minimal sebulan sekali
Semakin banyak orangtua berbicara tentang seksualitas, maka anak-anak akan semakin mudah dalam mencerna dan mengingat. Semakin terbiasa orangtua dalam menyampaikan fungsi masturbasi, penis dan vagina maka semakin mudah menatap mata anak-ana tanpa cekikikan atau kengerian.
Intensitas ini tidak statis, orangtua bisa menyampaikannya ketika misal tidak sengaja menonton iklan kondom, ketika anak pertama kali mendapatkan teman berbeda gender, dll.
4. Siapkan referensi atau alat sebagai bahan edukasi, seperti buku atau mainan
Memiliki buku-buku seperti seri buku pendidikan seks dapat membantu orangtua merasa lebih siap. Situs web seperti Amaze, Scarleteen, dan Planned Parenthood Teen semuanya memberikan informasi yang luar biasa, akurat, dan inklusif tentang seksualitas. Orangtua dapat mencari informasi di situs web ini bersama anak-anak untuk mengetahui cara yang sehat dalam meneliti topik seputar seksualitas.
5. Ajak orang dewasa lainnya untuk memperhatikan masalah edukasi seksualitas
Orang dewasa disekitar anak-anak juga harus ‘aware’ mengenai edukasi seksualitas selain orangtua. Misalkan tante, paman, nenk, kakek, kakak, tetangga, dan sebagainya.
Mempunyai teman orang dewasa lain yang dipercayai untuk berbicara dengan anak-anak tentang topik ini sangatlah membantu. Terkadang anak-anak merasa canggung bertanya kepada orangtua mereka tentang topik yang berkaitan dengan seksualitas, jadi adanya orang dewasa lain yang dapat dipercaya dan dapat mereka ajak bicara dapat sangat membantu.
[berita-terkait number=”5″ tag=”tips”]
6. Jangan terlalu memaksakan diri sendiri
Jika orangtua mulai berbicara tentang sesuatu dan rasanya tidak benar atau tidak yakin bagaimana melanjutkannya, tidak apa-apa untuk mundur selangkah dan berkata, “Saya perlu sedikit meneliti topik ini. Mari kita bicarakan ini besok.”
Hal itu dapat memberi jeda waktu untuk mengumpulkan sumber daya atau menemukan cara baru untuk membahas topik yang hendak dibicarakan.
7. Beri pengertian kepada anak
Terkadang kecanggungan tidak dapat dihindarkan. Solusinya adalah bicara terbuka kepada anak.
Katakan hal seperti, “Saya merasa canggung sekarang, tetapi itu tidak berarti saya akan berhenti berbicara hal ini. Karena hal ini sangat penting.”
Itulah tips agar tidak merasa canggung ketika mengedukasi anak perihal seksualitas. Namun perlu diingat, orangtua tetap membutuhkan dukungan dari orang dewasa yang lain disekitar anak. Juga dukungan yang bersifat eksternal seperti media yang ditonton, lingkungan sekolah, dan sebagainya. (Kai/ian)






