Lamongan (beritajatim.com) – Sebagai wujud syukur atas nikmat yang diberikan oleh Sang Maha Kuasa, warga desa di Kabupaten Lamongan menggelar tradisi wiwitan. Tradisi ini seperti yang dilakukan oleh warga Desa Kebalanpelang, Kecamatan Babat, Lamongan, sebelum memanen padi di lahan mereka.
Menurut Kepala Desa (Kades) Kebalanpelang, Mustofa, tradisi wiwitan dengan kearifan lokal ini biasa digelar oleh warga di desanya sebelum memulai masa panen padi. Seluruh warga secara sukarela akan berduyun-duyun menuju ke lokasi yang sudah disiapkan.
Tak hanya datang begitu saja, kata Mustofa, masyarakat juga membawa beragam makanan seperti nasi tumpeng, ingkung ayam, lalu buah-buahan dan banyak jajanan khas pedesaan lainnya yang ditaruh dalam tampah.
“Tradisi slametan wiwitan ini biasanya kami gelar sesaat sebelum memanen padi dan memang rutin kami gelar setiap menjelang panen,” ujar Kades Kebalanpelang, Mustofa, Sabtu (27/8/2022).
Mengenai asal muasal tradisi ini, Mustofa menjelaskan bahwa tradisi wiwitan ini sudah berlangsung secara turun temurun dari nenek moyang warga desa setempat. Sehingga, hingga saat ini warga pun masih berupaya untuk melestarikannya.
“Wiwitan berasal dari kata Wiwit yang artinya memulai, yakni memulai untuk memanen hasil bumi yang telah ditanam oleh para petani. Untuk lokasi, biasanya digelar di area sawah seperti ini,” imbuhnya.

Berdasarkan pantauan beritajatimcom di lokasi, tampak masyarakat mengikuti tradisi wiwit dengan antusias. Prosesi wiwit ini sendiri dipimpin langsung oleh sesepuh desa bersama Kepala Desa setempat.
“Alhamdulillah, tahun ini kita bisa terus menggelar dan melestarikan slametan wiwit ini. Warga juga sangat berantusias. Dalam wiwit ini, kita membaca selawat, memanjatkan doa yang kemudian dilanjut dengan pemotongan tumpeng untuk dimakan bersama-sama,” ungkapnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pemkab-lamongan”]
Lebih lanjut Mustofa berharap, melaui ungkapan syukur dalam tradisi wiwitan ini, hasil panen yang didapat oleh para petani di desanya selalu melimpah ruah.
“Dalam setahun, tradisi wiwitan ini bisa digelar sampai 2 kali, karena memang kami dalam setahun panen 2 kali. Semoga hasil panen masyarakat selalu mendapat keberkahan dari Allah SWT dan melimpah,” harapnya, usai melakukan pemotongan padi secara simbolis.

Sementara itu, Ketua Gapoktan Desa Kebalanpelang Hasyim Mustari menuturkan bahwa lahan pertanian padi di Kebalanpelang ini memiliki luas 250 hektar.
“Lahannya ada 250 hektar. Di sini ada 2 kelompok tani. Untuk pupuk lancar, tapi tahun ini memang ada pengurangan jenis pupuk, yang sulit itu pupuk Phonska” ucapnya.
Meski sempat mengalami kesulitan untuk mendapatkan salah satu jenis pupuk itu, namun Hasyim mengaku bersyukur bisa panen dengan hasil yang memuaskan.
Pihaknya berharap, akan ada bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) berupa hand traktor dan mesin combine permanen padi ke desanya. Dengan begitu, pertanian di desanya akan lebih berkembang sehingga terwujud swasembada pangan.
“Harapan petani semoga pupuk bisa tersalurkan semuanya karena kemarin memang sempat ada pengurangan jumlah pupuk. Semoga juga ada bantuan alsintan, terutama combine, desa sini belum ada yang punya,” tuturnya.[riq/ted]






