Lamongan (beritajatim.com) – Anggota DPR RI PKB Dapil X dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Dr. H. Jazilul Fawaid bersama BKKBN Jatim menggelar KIE Program Bangga Kencana dan Percepatan Penurunan Stunting bersama mitra kerja tahun 2022, di Desa Kemantren, Kecamatan Paciran, Lamongan.
Hadir dalam kegiatan ini Koordinator Bidang Advokasi, Penggerakan, dan Informasi (ADPIN) serta Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana Ahli Madya Perwakilan BKKBN Jatim, Dra. Sofia Hanik, MM.
Sekretaris Dinas PPKB (Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana) Lamongan, Didik Sugiharto B. Raharjo, serta para peserta yang terdiri dari ibu-ibu PKK, mahasiswa, dan sejumlah pengurus dari Banom NU Paciran.
Di hadapan para peserta, Jazilul Fawaid menyampaikan tentang kerangka besar upaya percepatan penurunan stunting dalam rangka mewujudkan SDM yang unggul di masa depan.
“Stunting masih menjadi tantangan Pemerintah karena target prevalensi stunting dalam RPJMN 2020-2024, sebesar 14 persen di tahun 2024. Sehingga pelaksanaan intervensi spesifik dan sensitif untuk pencapaian target indikator sesuai Perpres 72/2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting, teru digenjot,” ujarnya, Minggu (21/8/2022).
Pria yang akrab disapa Gus Jazil ini menjelaskan, intervensi yang dapat dilakukan untuk mempercepat perbaikan gizi terhadap masyarakat, khususnya dalam penurunan stunting harus dimulai dari hulu.
“Kita harus menyiapkan strategi dan aksi yang cepat, melalui pendekatan intervensi harus dimulai sejak remaja, calon pengantin (catin), ibu hamil, ibu menyusui, dan anak usia 0-59 bulan,” imbuh Wakil Ketua MPRI RI tersebut.

Selain itu, menurut Gus Jazil, remaja juga menjadi faktor penentu negara untuk bisa menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) guna mencapai bonus demografi pada tahun 2045.
Artinya, suksesnya Indonesia dalam membangun remaja menjadi generasi yang produktif dan memiliki pengetahuan kesehatan reproduksi ini dapat mewujudkan penduduk berkualitas.
“Remaja juga harus peka terhadap terjadinya stunting yang mempengaruhi pembangunan SDM unggul ke depannya. Bila terbentuk generasi stunting, maka penduduk akan kurang mampu bersaing karena tidak cerdas, tidak tinggi dan tidak sehat,” terangnya.
Lebih lanjut, tutur Gus Jazil, bila para remaja sejak usia muda dapat tumbuh dengan sehat, produktivitas masyarakat dalam membangun negara di berbagai sektor kehidupan dapat meningkat, maka juga dapat menekan beban negara dalam memberikan bantuan pada penduduk yang tidak produktif.
“Intinya, strategi percepatan penurunan stunting ini harus dijalankan oleh semua pihak atau seluruh pemangku kepentingan agar target penurunan ini pun bisa tercapai. Sehingga tidak terjadi mis-bonus demografi,” paparnya.
Dalam kesempatan yang sama, Koordinator ADPIN Perwakilan BKKBN Jatim, Sofia Hanik mengatakan, peran BKKN melalui program bangga kencana untuk meningkatkan kualitas SDM itu dilakukan melalui perencanaan di tiap tahap atau siklus kehidupan dengan baik.
Perencanaan itu meliputi pendewasaan usia perkawinan dan penyiapan kehidupan bagi remaja melalui program GenRe (Generasi Berencana).

Ia juga menyebut bahwa angka stunting di Jawa Timur pada tahun 2022 angka prevalensinya masih cukup tinggi, yakni 23,5 persen. Tercatat, angka tertinggi terdapat di Kabupaten Bangkalan sebesar 38,9 persen, sedangkan terendah di Kabupaten Mojokerto 6,9 persen.
“Oleh karenanya, diseminasi pelaksanaan delapan aksi konvergensi yang merupakan sebuah upaya dalam menurunkan angka stunting dengan merumuskan kegiatan-kegiatan yang terintegrasi ini sangat penting dilakukan,” tuturnya.
Adapun delapan aksi konvergensi yang dimaksud adalah analisa situasi, rencana kegiatan, rembug stunting, perbup/perwal tentang peran desa, kader pembangunan manusia, manajemen data, pengukuran dan publikasi, serta review kinerja tahunan.
“Faktor perekonomian dan perawatan (pola asuh) bayi sejak dalam kandungan tetap jadi penyebab utama tingginya angka tersebut,” bebernya.
Sementara itu, Sekdin PPKB Lamongan, Didik Sugiharto B. Raharjo melaporkan bahwa Angka penurunan stunting Lamongan pada tahun 2020 mencapai 7,1 persen, dan pada tahun 2021 mencapai 6,32 persen.
[berita-terkait number=”4″ tag=”bkkbn-jatim”]
Karena turun, sehingga prevalensi stunting di Lamongan pada tahun 2021 di angka 20,5 persen, dan ditargetkan turun lagi di bawah 14 persen di tahun 2024.
“Lamongan telah menerjunkan 1038 tim yang terdiri dari 3108 orang meliputi bidan, kader PKK dan kader KB, yang tersebar di seluruh Lamongan,” ucap Didik.
Kendati demikian, Didik mengaku, kesehatan ibu dan bayi masih menjadi persoalan yang terus dihadapi di Lamongan. Terdapat 23 kasus atau 148,29 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan jumlah kasus kematian bayi ada 80 kasus atau 5,16 per 1000 kelahiran hidup di Kabupaten Lamongan.
“Semoga nanti juga support dana dari pusat ditambah dan segera digelontorkan. Sesuai tema HUT ke-77 RI, semangat untuk pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat harus bisa kita tanamkan dalam diri. Kita harus siap bersama-sama untuk membuat solusi-solusi bergerak cepat menurunkan angka stunting,” tutupnya.[riq/ted]






