Banyuwangi (beritajatim.com) – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Banyuwangi menggelar kajian dalam rangka mengendalikan inflasi daerah. Langkah itu salah satunya diambil bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cabang Jember dan Badan Pusat Statistik (BPS) Banyuwangi.
Dalam sejumlah paparan, Badan Pusat Statistik (BPS) Banyuwangi membuka data angka inflasi di Bumi Blambangan. Dari data itu didapati Banyuwangi mengalami inflasi pada angka 0,68 persen per Juli 2022.
“Untuk inflasi bulan kemarin di antaranya disumbang oleh biaya sekolah SMP dan SMA yang memang masuk awal tahun ajaran baru,” ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Banyuwangi Tri Erwandi.
[berita-terkait number=”5″ tag=”inflasi”]
Lebih lanjut, Tri Erwandi menyebut, angka itu meningkat dari dua bulan sebelumnya 0,49 dan 0,61 persen. Bahkan, kondisi inflasi tersebut dinilai cukup bergejolak dibandingkan dengan dua tahun terakhir.
“Pada saat Covid-19 kemarin, masyarakat menahan diri untuk mengurangi konsumsi, sehingga kondisi inflasi cukup stabil. Tetapi, saat ini, inflasi cukup bergejolak karena memang tingkat konsumsi meningkat,” terangnya.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyebut, akan terus berkomitmen untuk membangun sinergi dalam rangka mengendalikan inflasi di daerahnya. “Untuk mengendalikan inflasi ini, tidak bisa hanya dilakukan satu dua pihak saja. Tapi, harus bersinergi ke semua pihak. Tidak hanya antar dinas, tapi juga antar lembaga vertikal hingga antar daerah,” terang Ipuk.
Meski demikian, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jember menyebutkan inflasi di Banyuwangi sangat terkendali. Bahkan, pertumbuhan ekonominya terhitung paling baik di wilayah Sekarkijang (Eks Karesidenan Besuki dan Lumajang).
“Pertumbuhan ekonomi Year on Year Banyuwangi sangat baik. Dari minus 3 pada 2020, meningkat menjadi 4,08 persen pada 2021. “Kalau dilihat trendnya, sangat berkemungkinan pertumbuhan ekonomi bisa meningkat lebih dari empat persen,” ungkap Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jember, Yukon Aprinaldo.
Data perbankan, imbuh Aprinaldo, juga menunjukan angka yang positif. Mulai dari angka Dana Pihak Ketiga (DPK) dan aset hingga angka kredit. Pada 2022 ini, dari bulan ke bulan terus menunjukkan pertumbuhan. “Artinya, perputaran uang di Banyuwangi sangat aman,” terangnya. (rin/kun)






