Surabaya (beritajatim.com) – Siapa bilang jika orangtuanya pendek anaknya dan keturunannya akan pendek tujuh turunan. Tinggi badan bisa diperbaiki saat anak usia balita hingga 9 tahun.
“Banyak orang bilang, dari kakek neneknya sudah keturunan pendek, tidak akan mungkin lagi bisa tinggi. Lalu saya bilang, Bisa, ayo ubah pola makan. Makan protein dan susu yang cukup diusia balita hingga 9 tahun, maka anak akan lebih tinggi dari keturunan sebelumnya,” beber Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, MPH, ahli gizi kesehatan masyarakat dan guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
Dikatakan, Sandra kasus stanting di Indonesia masih tinggi. Penyebabnya selain faktor ekonomi juga kasus malnutrisi juga mempengaruhi. Asumsi protein bisa tercukupi dengan tahu dan tempe ternyata salah. Sebab yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang badan anak adalah protein dari hewani. Seperti ikan, telur, daging dan susu.
“Anak balita harus minum susu minimal 1 kotak kecil UHT. Dan harga tidak mahal mulai Rp 2.500 per kotak. Ibu-ibu yang biasanya beli gorengan untuk keluarga harus ganti dengan susu agar asam amino untuk pertumbuhan tulang jadi tercukupi,” jelasnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”gizi”]
Dari hasil penelitian Sandra pada 121 anak anak yang asupan energi dan proteinnya kurang berpotensi 4 hingga 6 kali lebih besar kena stanting.
“Dan anak dari keluarga yang punya sapi perah lebih tinggi 0,3 dan 0,6 dari standar tinggi badan anak normal. Ini artinya susu itu bagian penting dan orangtua harus mulai memprioritaskannya,” harapnya.
Hal yang sama juga diamini oleh Rachmat Indrajaya, Direktur Coorporate Affairs JAPFA yang menyebutkan kesadaran mengkonsumsi daging di masyarakat masih rendah. Berdasarkan data Food and Agriculture (FAO) pada tahun 2017, total konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia hanya sebesar 8%. Angka tersebut berbeda secara signifikan dibandingkan negara Asia lainnya, seperti Malaysia dan Thailand yang tingkat konsumsi protein hewaninya masing-masing mencapai 30% dan 24%.
“Sekarang yang cukup murah didapat adalah daging ayam. Namun isu negatif tentang ayam ras juga menyesatkan, mulai dari suntik hormon dan lainnya. Padahal semua itu tidak benar, kami tunduk pada aturan WHO yang tidak memperbolehkan menggunakan hormon. Ayam bisa besar karena genetiknya begitu,” terang Rachmat.
Masih tingginya angka stanting dan gizi buruk ini juga membuat PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA), menggelar edukasi media terkait pentingnya asupan protein hewani.
“Selain merupakan bagian dari komitmen perusahaaan untuk memberikan edukasi dan sosialisasi guna meningkatkan konsumsi protein hewani di masyarakat, hal ini juga sejalan dengan rencana pemerintah dalam menekan angka stunting di Indonesia,” akunya.
Prevalensi kasus stunting di Indonesia kian menunjukkan penurunan sejak beberapa tahun belakangan. Meskipun demikian, penurunan angka stunting tersebut masih jauh dari target Nasional yakni sebesar 14% pada tahun 2024. Stunting menjadi masalah genting sebab memiliki dampak jangka panjang yang berkontribusi pada produktivitas ekonomi dan pertumbuhan negara. Padahal salah satu pencegahannya dapat dilakukan dengan cara mengkonsumsi makanan yang mengandung protein hewani. Namun, sayangnya total konsumsi protein hewani di Indonesia masih tergolong rendah. [rea]






