Mobil Isuzu Panther yang dikemudikan Suwarso sudah berada di jalan depan rumah Anis Ilmiyatul Hasanah, di Dusun Rowo, Desa Pakusari, Kecamatan Pakusari, Sabtu (30/7/2022) siang itu. Mereka terlambat satu jam. Seharusnya mereka berangkat ke Situbondo pukul 12.
Keluarga Suwarso hendak mengantarkan anak semata wayang mereka, Ahmad Rojib Hasbi Maulana, kembali ke Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Kabupaten Situbondo yang berjarak sekitar 102 kilometer. Hasbi kuliah di semester enam Ma’had Aly, semacam pendidikan tinggi di pondok. Dia pulang ke rumah untuk mengambil komputer jinjing, karena hendak mengerjakan skripsi.
Anis sudah tahu jika mereka akan terlambat. Jarak rumah keluarga Suwarso dengan Anis sebenarnya hanya sekitar 600 meter. Suswati, istri Suwarso, sudah meneleponnya untuk mengabarkan keterlambatan itu. “Masih ada tamu, Nis,” katanya.
Saat mobil datang, Anis kembali bertanya. “Tamu dari mana, Dik?” tanyanya kepada Hasbi.
“Dari mana, Pak?” tanya Hasbi kepada Jammar, kakeknya, yang duduk di kursi mobil bagian belakang.
“Dari Baban (Kecamatan Silo) katanya. Dia mengajak baca salawat. Jadi lama,” kata Jammar.
Tak ada yang tahu siapa tamu itu. Hasbi tak merasa mengenalnya. Begitu pula Suwarso, Suswati, Jammar, maupun sang nenek Lilik Puanti Rahayu. Lelaki misterius itu hanya ingin bertemu Hasbi. “Saya ingin sekali bertemu Mas Hasbi,” katanya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”kecelakaan-jember”]
Lalu lelaki misterius itu mengajak keluarga Suwarso berdoa dan melantunkan salawat atau pujian untuk Nabi Muhammad. Suwarso tak enak hati hendak menolak. Dia tahu harus mengantarkan sang anak kembali ke Situbondo sebelum pukul lima sore. Namun dalam tradisi Madura, tak elok mengusir tamu. Apalagi tamu yang datang dengan ajakan yang baik.
Anis mengenal baik keluarga Suwarso. Sejak 2008, ia sudah menjadi pelanggan tetap pakaian jahitan Suswati. Hasbi sudah dikenalnya sejak kelas enam sekolah dasar sebagai sosok anak yang baik dan pandai. Hasbi bisa memilih sekolah di mana saja setelah lulus sekolah dasar. Namun ia tak mau masuk SMP negeri.
“Lho kenapa?” tanya Suswati.
“Tidak mau, Ma. Aku takut menjadi orang yang tidak takut sama Allah. Aku mau mondok saja,” jawab Hasbi. Maka dia pun masuk pondok pesantren sekaligus menempuh pendidikan SMP dan SMA di Darussolah, lembaga pendidikan milik almarhum tokoh NU KH Yusuf Muhammad. Dia kemudian melanjutkan kuliah di Ma’had Aly d Sukorejo.
Anis Ilmiyatul Hasanah dan ayahnya Alwi Dahlan hari itu juga hendak ke Sukorejo untuk menengok adik Anis di pondok pesantren putri. Sebelumnya mereka tak pernah berangkat bersama Hasbi dan keluarganya.
Tak enak hati, Anis sebenarnya memilih duduk di kursi belakang bersama Alwi. Namun permintaan itu ditolak. “Jangan, tempatnya sudah dipesan,” kata Suswati. Kursi belakang sudah diduduki Jammar dan istrinya Lilik.
Anis duduk di kursi tengah sebelah kiri dekat pintu, berdampingan dengan Suswati dan Hasbi. Sementara Alwi di kursi depan di samping Suwarso yang mengemudi. Anis sempat minta bertukar tempat duduk dengan Hasbi. “Tidak usah, Mbak. Mbak duduk di sana saja,” kata Hasbi.
Anis tak melihat ada lagi yang perlu diperdebatkan. Mereka sudah terlambat. Saatnya untuk berangkat.
Sebelas kilometer kemudian, di Sumber Ketempa, Kecamatan Kalisat. Mereka melewati jalan berkelok seperti huruf S. Miring. Sebuah truk trailer pengangkut triplek sudah memasuki kelokan. Tak ada jalan lain. Lebar jalan terlalu sempit, sekitar delapan meter. Suwarso menghentikan kendaraannya.
Anis masih melihat sopir truk trailer mencoba mengendalikan kendaraanya, saat mendadak truk itu miring dan terguling menimpa mobil yang ditumpanginya. “Allahu Akbar.” Semua penumpang dalam mobil menjerit berbarengan.
Lalu sunyi.
Tubuh Anis miring dekat pintu, terimpit atap mobil yang melesak ke dalam karena beban berat dari atas. Gadis berusia 29 tahun itu merasa ajalnya tak lama lagi. Ia memanggil Alwi. “Abi…”
Tak terdengar jawaban. Jantung Anis berdebar kencang. Ayahnya mungkin sudah meninggal.
Anis memilih bersyahadat, meneguhkan imannya kembali. Mungkin ini saat terakhirnya juga. Dan ia melihat ada tangan terjulur dari sebuah lubang di depannya. Ia tak tahu lubang apa itu.
Semula Anis merasa tak akan cukup keluar melalui lubang itu. Namun dengan pasrah, ia pegang tangan yang terjulur itu, dan berikutnya ia sudah berada di luar kendaraan. Terduduk di samping kendaraan yang terjepit triplek dan truk yang terguling.
Banyak orang yang tak percaya Anis bisa keluar dari mobil itu tanpa terluka. Saat video kecelakaan itu viral di media sosial, sebagian besar orang memperkirakan penumpang mobil tak terselamatkan.
Anis tidak bisa menjelaskan bagaimana bisa keluar dari kendaraan itu. Dia juga tak tahu siapa yang membantunya. Tangan siapa itu. Dia merasa tak pingsan sekalipun. Namun dia tak bisa menjelaskan proses keluar dari mobil. “Saya tidak tahu,” katanya kepada Hafidi, anggota DPRD Jember yang membantu proses evakuasi.
Keluar dari kendaraan, Anis kembali memanggil sang ayah. Kali ini suara jawaban terdengar. “Nis…”
Anis menyorongkan tangan berusaha menarik Alwi keluar dari mobil. Gagal. Warga sekitar mulai berdatangan dan membantu.
Ajaib. Mereka tak mengalami luka parah. “Sebagian tubuh saya hanya terasa kaku tak bisa digerakkan,” kata Anis, sehari setelah kecelakaan. Namun tidak ada tulang yang patah atau dislokasi.
Demikian juga Alwi. Hanya bekas hitam di kopiah putihnya yang menunjukkan bagaimana kerasnya gencetan atap mobil yang melesak saat itu.
Suswati yang masih di dalam Panther memanggil Hasbi. Tak ada jawaban. Ia mendengar suara suaminya merintih. Namun tak terdengar suara Jammar dan Lilik. Orang-orang berusaha keras melakukan evakuasi. Tak mudah karena atap mobil benar-benar menjepit anggota keluarga Suwarso.
Hasbi dan Lilik berhasil dievakuasi dalam keadaan tak bernyawa. Anis melihat pria berusia 20 tahun itu memejamkan mata seperti orang yang tidur dengan tenang. Ia tak menyangka Hasbi sudah meninggal saat itu. Jammar masih merintih kesakitan saat dievakuasi. Namun ia kemudian mengembuskan napas terakhir justru setelah berhasil dikeluarkan dari dalam mobil.
Anis dan Alwi selamat. Sementara Hasbi dan kakek neneknya dimakamkan bersebelahan di pekuburan umum desa yang tak jauh dari rumah mereka.
“Mbak, aku tahun depan mau kuliah ke Hadramurh, Yaman.”
“Oh ya, Dik. Alhamdulillah. Semangat. Kamu tahu caranya?”
“Iya, Mbak itu tesnya di Solo. Kalau biaya per bulannya murah. Cuma biaya pesawat ke sana.”
Anis menceritakan percakapan itu kepada saya dengan suara kadang tersendat. Hasbi pergi. Dan Anis bersyukur Tuhan tidak mengambil kenangan indah itu darinya. [wir/kun]






