Mojokerto (beritajatim.com) – Eceng gondok dikenal sebagai gulma bagi ekosistem air. Namun, di tangan Suliadi (44) warga Desa Jeruk Seger, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, tanaman tersebut bisa dijadikan bahan baku kerajinan beromzet puluhan juta.
Eceng Gondok merupakan tumbuhan yang banyak dijumpai di kawasan perairan daratan, seperti di sungai, rawa, waduk, situ, dan sejenisnya. Tanaman yang memiliki nama Latin Eichhornia Crassipes ini dapat tumbuh dan berkembang dengan cepat pada kawasan perairan yang tercemar limbah.
[berita-terkait number=”4″ tag=”kerajinan-mojokerto”]
Karena tanaman ini mampu mengikat berbagai senyawa logam berat yang terkandung dalam air, misalnya seng, besi, tembaga, serta raksa. Perkembangbiakan yang pesat dapat membuat daerah habitat eceng gondok menjadi cepat dangkal karena proses sedimentasi atau pengendapan.
Jika berlebihan, hal ini tentu berpotensi mendatangkan bencana luapan banjir karena aliran air tersumbat oleh eceng gondok. Oleh karena itu, pertumbuhan eceng gondok yang padat perlu dimanfaatkan agar menghasilkan produk yang bernilai ekonomis.
Awalnya, Suliadi mencari sendiri eceng gondok di kawasan Kalijaring, Desa Mlirip, Kecamatan Jatis, Kabupaten Mojokerto. Namun, karena banyak dibangun perumahan, dia mencari ke pengepul di Desa Kwatu, Kecamatan Mojoanyar, hingga Desa Ngimbangan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto.
“Tapi sejak ada normalisasi sungai tahun 2018, tidak ada lagi petani eceng gondok. Bahannya di Mojokerto agak susah, saya ambil dari Surabaya, tapi sudah kering. Harganya berbeda karena ada yang super, ada yang biasa,” ungkapnya, Senin (1/8/2022).
Ia mengaku pesanan menurun sehingga ia tidak banyak memesan bahan baku eceng gondok dari Surabaya tersebut. Sehingga dalam sekali pesanan bahan baku, ia memesan paling banyak 1 kwintal eceng gondok kering.
“Dulu pernah ada pesanan banyak jadi pernah sampai mengambil 1 ton. Saya dulu awalnya mulai cara menganyam dulu, jadi belum mahir. Tapi sekarang sudah banyak jenis anyaman. Ada yang pesan dari instansi juga, ada dari Surabaya, saya tidak pakai online,” katanya.
Usaha yang bernama Banyu Putih Art tersebut saat ini sudah membuat aneka kerajinan. Seperti tas, beragam topi, tempat tisu, bantal kursi, kotak hampers atau hantaran, nampan, hingga tatakan gelas dan piring.
“Untuk proses menganyam cepat, satu tas sekitar tiga jam. Tapi finishing-nya yang lama. Mulai dari pengeringan, penyulaman, pasang handel jadi lama di situ. Harga mulai Rp3 ribu untuk tatakan gelas dan Rp200 ribu sampai Rp300 ribu untuk tas,” jelasnya.
Produk kerajinan anyaman eceng gondok miliknya dibuat dengan cara manual. Suliadi mampu memberdayakan masyarakat sekitar untuk membantunya memenuhi pesanan. Kini hasil kreasi tersebut telah dipasarkan hingga luar Pulau Jawa.
“Ada 4 orang pekerja tapi fluktuatif, kalau pesanan banyak ya banyak. Omzet kalau pas pesanan banyak bisa Rp10 juta,” tegasnya. [tin/suf]







