Jember (beritajatim.com) – Ribuan orang mahasiswa dari 13 perguruan tinggi terjun ke masyarakat dan melakukan KKN (Kuliah Kerja Nyata ) kolaboratif dan tematik di Kabupaten Jember, Jawa Timur, 23 Juli – 26 Agustus 2022. Mereka resmi dilepas Bupati Hendy Siswanto dalam upacara di alun-alun Jember, Sabtu (23/7/2022).
KKN ini bertema Universitas Membangun Desa dengan program utama penataan data kemiskinan berbasis teknologi informatika dan komunikasi. Sebanyak 2.485 orang mahasiswa, 1.658 orang di antaranya perempuan, akan terjun mendata warga miskin di 248 desa dan kelurahan yang tersebar 31 kecamatan.
Universitas Jember menjadi penyumbang peserta terbanyak, yakni 1.469 orang, diikuti Universitas dr Soebandi sebanyak 352 orang dan Universitas Muhammadiyah Jember sebanyak 300 orang. Perguruan tinggi lainnya yang terlibat adalah Universitas Moch. Sroedji (26 orang), STIA Pembangunan (20 orang), Universitas PGRI Argopuro (28 orang), STIE Mandala (6 orang), Universitas Islam Jember (74 orang).
Ada juga Akademi Farmasi Jember (64 orang), Institut Agama Islam (Iai) Al-Qodiri Jember (20 orang), Stikes Bakti Al Qodiri (94 orang), Institut Agama Islam al-Falah Assunniyyah (25 orang), dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Harapan Bangsa (7 orang).
“Ini kegiatan luar biasa. Hari ini ditunjukkan adanya perguruan tinggi Kabupaten Jember sangat bermanfaat bagi masyarakat. Masyarakat akan didatangi adik-adik mahasiswa dari 13 perguruan tinggi untuk mencatat kebenaran-kebanaran,” kata Hendy, usai upacara.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pemkab-jember”]
Para mahasiswa ini diminta untuk memutakhirkan angka kemiskinan. “Kita tidak mengatakan (pendataan) yang kemarin salah. Apapun harus develop. Negeri ini semakin lama harus semakin maju. Tentunya dengan kolaborasi ini, data yang kita dapatkan nanti insya Allah sangat akurat,” kata Hendy.
Hendy tidak akan mengklaim pendataan oleh mahasiswa tersebut akan berjalan sempurna. “Tahun depan perlu kita cek lagi. Terus seperti itu, karena esensinya manusia, apalagi data kemiskinan, semakin lama ekonomi semakin maju, bisa berubah dan harus kita cek lagi. Apalagi datanya ini nanti akan berbasis TIK (Teknologi Informatika dan Komunikasi,” katanya.
Mengapa para mahasiswa diberi tanggung jawab pendataan? Hendy mengatakan, percaya dengan para mahasiswa. “Saya tidak peduli. Mereka adalah anak saya dan saya harus percaya. Insya Allah hidup tidak akan sempurna, akan diperlukan update-update. Maka itu, ikhtiar maksimal dengan sistem digital sangat penting untuk meminimalisasi kekurangan,” katanya. [wir/but]






