Bojonegoro (beritajatim.com) – Komunitas Kajian Sor Keres (KSK) menggelar Jengker Budaya dengan tema Meh Merdeka. Peristiwa diskusi digelar sederhana di bawah pohon keres dengan dihadiri Ketua Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB) JFX Hoery serta sejumlah seniman, budayawan dan masyarakat umum.
Sekretaris KSK, Yazid Mar’i mengatakan, kegiatan tersebut lahir dari keresahan masing-masing anggota Kajian Sor Keres yang melihat geliat ketimpangan antara pembangunan fisik dan pembangunan sumber daya manusia (SDM) di Kabupaten Bojonegoro saat ini.
Terlebih, lanjut dia, diusia Bojonegoro sampai sekarang belum ada identitas yang melekat terhadap kabupaten yang berada di sebelah paling barat Provinsi Jawa Timur ini. “Kita sengaja mengangkat identitas Bojonegoro dari sisi budaya yang berkembang sampai sekarang,” ujarnya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”komunitas”]
Sejauh ini, menurutnya, Pemkab Bojonegoro kurang serius dalam merawat potensi seni dan budaya yang seharusnya menjadi identitas Bojonegoro. “Kami juga menilai sinergitas antara Pemkab Bojonegoro dengan para pelaku seni dan budaya ini belum terbangun untuk bersama-sama merawat potensi yang ada,” jelasnya.
Salah seorang budayawan, Gampang Prawoto menilai, untuk menentukan kabupaten yang layak, salah satu indikatornya adalah minimal memiliki tiga hal ini. Yakni perpustakaan yang nyaman dan memiliki koleksi buku yang lengkap, gedung pertunjukan seni serta museum.
“Sebagai tolokukur sebuah kota yang representatif, seharusnya memiliki museum, gedung perpustakaan yang memadai, dan gedung kesenian juga panggung terbuka,” jelasnya.
Sekadar diketahui, dalam gelaran jengker budaya di bawah Pohon Keres di Kelurahan Mojokampung Kabupaten Bojonegoro kemarin, dihadiri sejumlah seniman, budayawan, pengajar dan masyarakat umum. Diskusi mengalir dengan menghadirkan kelompok Sinder Dingklik dari Desa Ngunut Kecamatan Dander Bojonegoro. [lus]






