Jember (beritajatim.com) – Manajemen Persid, klub sepak bola Liga 3 dari Kabupaten Jember, Jawa Timur, menolak pembiayaan dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) setempat. Mereka lebih memilih untuk menjadi semiprofesional.
Hal ini ditegaskan Rezky Pratama, manajer tim dan Ketua Harian Yayasan Wis Wayahe Jember Bangkit yang menaungi Persid, Minggu (17/7/2022). “Kami harus lebih giat lagi mencari sponsor. Kami tidak mau menggunakan APBD. Sama seperti tahun lalu semua lancar-lancar saja walau kami masih di Liga 3,” katanya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”persid-jember”]
“Tujuan saya adalah mengangkat Persid ke jenjang yang lebih baik. Ketika menggunakan APBD, kami akan mengalami ketergantungan. Jadi saya dari awal mencoba belajar bagaimaan menghidupi klub ini dengan dana sponsor dan lain-lain. Kami belajar mandiri,” kata Rezky.
Rezky menyadari status Persid adalah klub amatir. Namun jika Persid naik kasta ke Liga 2, praktis tidak boleh ada uang negara yang masuk untuk membiayai. “Saya akan bawa Persid ke level semiprofesional. Kalau dengan menggunakan APBD, akan berat. Kami selalu tergantung kepada orang lain,” kata pria yang berprofesi dokter ini.
Persid sudah mendapatkan 17 orang pemain hasil dari seleksi 43 pemain. Penandatanganan kontrak dilakukan hari ini. “Setelah itu manajemen akan berkoordinasi dengan pelatih untuk memulai proses latihan dan uji coba. Kami ada pembicaraan dengan Persebaya U20 dan Nusantara United untuk uji coba. Belum deal,” kata Rezky.
Saat ini Persid dilatih Herrie Setyawan, yang sempat menjadi caretaker pelatih di Persib dan asisten pelatih di PSM Makassar. Pria kelahiran Makassar, 8 Maret 1959, itu sebelumnya melatih PS Hizbul Wathon.
Sebagai bek kanan, Herrie pernah ikut membawa tim nasional Indonesia meraih medali emas dalam SEA Games 1991 di Manila. Sebelum menjadi pelatih, ia pernah memperkuat sejumlah klub seperti Bandung Raya, Pelita Jaya, Persib Bandung, PKT Bontang, Persijap Jepara, PS Mojokerto Putra, PSB Bogor, Persma Manado, dan PSSA Asahan. [wir/suf]






