Ponorogo (beritajatim.com) – Nasruhan Arifianto, Kepala Program Studi (Kaprodi) Farmasi, Akademi Analis Farmasi dan Makanan (Akafarma) Sunan Giri Ponorogo ikut angkat bicara terkait insiden jajanan makanan asap yang terjadi pada Selasa (12/7). Namun dirinya tidak mau melakukan spekulasi. Nitrogen cair yang berbentuk gas memang tidak beracun secara langsung jika dimakan. Dengan catatan jumlahnya tidak banyak atau tidak berlebihan.
Soal jajan makanan asap yang tiba-tiba keluar api itu, kemungkinan ada pemicunya. Pemicu yang dimaksud karena adanya gesekan. Menurutnya, jumlah nitrogen yang terlalu banyak dan terus menumpuk sehingga menguapnya tidak sempurna. “Mungkin ada gesekan dari lidi dan bisa memicu nyalanya api itu,” kata Nasruhan Arifianto, Kamis (14/7/2022).
Nitrogen merupakan senyawa yang mudah bereaksi dan mengikat zat lain. Peruntukannya bukan untuk dikonsumsi. Meski telah berubah menjadi asap, namun masih ada nitrogen dalam sponge atau rongga makanan kecil itu. Otomatis itu akan ikut termakan. “Nah, yang dikhawatirkan nitrogen itu terikat dengan zat lain di pencernaan,” katanya.
Paling bahaya, menurut Arif jika dihirup seperti menghisap rokok. Dikhawatirkan nitrogen bisa masuk paru-paru. Jika orang itu punya sakit asma, tentu lebih mengkhawatirkan lagi. “Dampak terburuknya seperti keracunan bahan kimia,” kata laki-laki yang juga menjadi wakil ketua Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Cabang Ponorogo itu.
Penggunaan nitrogen itu seperti pada piranti selam, pompa, ataupun air conditioner (AC). Sehingga makanan yang bahannya dari nitrogen tidak direkomendasikan. Supaya kejadian itu tidak terulang, ada baiknya si penjual diberi peringatan. “Makanan seperti itu, tidak kami rekomendasikan,” pungkasnya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”chiki-kebul”]
Untuk diketahui sebelumnya, seorang anak di Ponorogo yang inisial AFT pada Selasa (12/7) sore wajahnya terbakar setelah membeli makanan chiki kebul berasap saat akan melihat pertunjukan Reog di Desa Ngasinan Kecamatan Jetis. Belum sampai makanan kekinian itu dimakan, makanan itu tiba-tiba berubah menjadi api dan membakar leher, tangan dan wajah anak tersebut. “Anak saya mungkin penasaran, lihat makanan kok ada asapnya, akhirnya saya belikan,” kata Sutrisno (46), bapak korban.
Sutrisno menjelaskan baru semenit dan belum sempat dimakan, saat makanan berasap itu dipegang anaknya, langsung berubah menjadi api dan membakar bagian wajah, tangan dan leher anak berusia 5,5 tahun itu. Secara spontan, Sutrisno langsung memadamkan api yang membakar anaknya tersebut. Bahkan mematikan apinya itu dengan tangannya tidak pakai alat lain. “Karena memadamkan api itu, jari tangan saya juga ikut terbakar dan terluka,” kenang Sutrisno.
Sutrisno juga langsung melepas kaos yang dipakai anaknya. Kaos itu juga ikut terbakar pada bagian depannya. Api padam, Sutrisno langsung membawanya ke Puskesmas yang tak jauh dari acara pertunjukan Reog itu. Di puskesmas, korban kemudian dirujuk ke RSU Muslimat. “Dari puskesmas dirujuk ke rumah sakit, sebab waktu itu katanya obatnya lagi kosong,” pungkas Sutrisno. [end/suf]






