Malang (beritajatim.com) – Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) menggelar seminar nasional dengan mengusung tema ‘Metaverse: Peluang dan Tantangan Pendidikan Tinggi di Era Industri 5.0 Rabu, (13/7/2022). Kegiatan yang digelar secara hybrid itu juga sebagai rangkaian dari diesnatalis ke 53 ITN Malang.
Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah menjadi narasumber bersama Kepala Pusat Riset Kecerdasan Buatan dan Keamanan Siber BRIN RI Anto Satriyo Nugroho.
Basarah menekankan dalam menyambut era Metaverse bangsa Indonesia harus memperkuat kembali Ideologi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, kemajuan teknologi informasi global, termasuk fenomena Metaverse adalah bentuk perubahan yang tidak mungkin dihindari.
[berita-terkait number=”5″ tag=”ITN-Malang”]
Dia berharap ITN dan Perguruan Tinggi lainnya. mampu menjadikan perkembangan kemajuan teknologi sebagai manfaat bagi masyarakat. Bangsa Indonesia diminta untuk mengantisipasi dampak negatif dari derasnya arus perkembangan teknologi informasi.
“Benteng bagi bangsa Indonesia adalah kembali pada jati diri bangsa sendiri yaitu Pancasila sebagai way of life. Bangsa Indonesia tetap harus berpedoman dan berpijak kepada falsafah bangsa kita sendiri agar kita tidak terombang-ambing,” kata Basarah.
Basarah meminta di tengah derasnya perkembangan teknologi, Pancasila harus menjadi pegangan bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Hadirnya Metaverse memiliki ancaman dan peluang. Salah satu ancaman nyata adalah masuknya kelompok terorisme dan ekstremisme yang akan menyusupi pengguna teknologi. Dia pun mengajak generasi bangsa di era Metaverse nantinya tidak lupa dengan jatidiri bangsa Indonesia dalam memegang teguh ideologi Pancasila
“Tapi filosofi tidak boleh keluar dari maksud para pendiri bangsa. Kalau bernegara tidak punya pegangan, jiwa dan roh, maka bernegara akan linglung. Sebab itu, bangsa Indonesia harus betul-betul memegang teguh ideologi Pancasila,” imbuhnya.
Sementara itu, , Kepala Pusat Riset Kecerdasan Buatan dan Keamanan Siber BRIN RI Anto Satriyo Nugroho menyebut metaverse membuka peluang akses seluas-luasnya di dunia digital. Oleh karenanya masalah privasi merupakan tantangan tersendiri dalam dunia metaverse.
“Indonesia selama ini memiliki teknologi otentikasi memakai KTP elektronik dan reader berbasis biometrik jari. Akan tetapi sejak 2020 membuka peluang pemanfaatan informasi wajah untuk verifikasi individu. Tantangan saat ini adalah bagaimana memastikan wajah yang ditampilkam benar, bukan foto atau video. Selain itu tingkat eror dari verifikasi itu juga harus dipastikan rendah,” tandas Anto. (luc/kun)







