Jember (beritajatim.com) – Kesebelasan Kota Pasuruan berpesta gol di tengah hujan yang mengguyur Stadion Notohadinegoro, Kabupaten Jember, Sabtu (18/6/2022) sore. M. Zanuar Ardani dan kawan-kawan menggelontor gawang Kabupaten Mojokerto empat gol tanpa balas.
Di hadapan 700 orang penonton, Pasuruan unggul melalui kaki Zanuar Ardani pada menit 11, Thalib Abdul Halim Thalib pada menit 27, Andika Ramadani pada menit 40, dan Fran Adi Saputra pada menit 45+1. “Saya berterima kasih kepada pemain yang sudah bersusah payah. Pertandingan sore ini memang berat,” kata Sujito, pelatih Kota Pasuruan.
Hujan lebat membuat skema permainan bola-bola pendek satu sentuhan dari kaki ke kaki pemain Kota Pasuruan tak berjalan mulus. Genangan air di atas lapangan menghambat laju bola dan menguras tenaga pemain. Sujito, pelatih Pasuruan, menginstruksikan anak-anak asuhnya lebih banyak langsung melakukan tembakan ke arah gawang daripada saling oper.
Idenya sederhana. Di bawah guyuran hujan, konsentrasi penjaga gawang lawan cenderung turun dan bola licin, susah untuk ditangkap. “Biasanya jika terjadi kemelut di gawang lawan, banyak peluang untuk mencetak gol. Kami harus banyak melakukan shooting dan memanfaatkan bola rebound. Bola-bola atas beberapa kami menang heading. Semangat anak-anak luar biasa,” kata Sujito.
Ide sederhana itu terbukti ampuh. Andika Ramadani memanfaatkan hadiah tendangan bebas dari wasit dari sisi kanan pertahanan Mojokerto dengan menembakkan bola langsung ke arah gawang lawan. Kiper Mojokerto M. Anas Nurfadilah sudah berusaha menangkap bola. Namun kondisi licin membuat bola terlepas dan masuk ke gawangnya.
Sujito memuji penampilan penjaga gawangnya, Moch. Ismail. “Postur tubuhnya kurang ideal. Tapi dia berpengalaman dan punya keberanian. Lompatannya lumayan tinggi. Namun terus terang kami lumayan waswas. Bola licin, hujan,” katanya.
Sujito menganggap keberuntungan ikut menentukan saat bermain di Notohadinegoro. Kondisi lapangan yang buruk saat hujan turun membuatnya tak akan mengubah cara bermain. “Kami punya strategi memanfaatkan bola-bola mati. Sekitar 70 persen menghasilkan gol,” katanya.
Dalam pertandingan tersebut, wasit Chandra Gunawan dari Kabupaten Gresik mengeluarkan dua kartu kuning untuk pemain Kota Pasuruan dan tiga kartu kuning untuk pemain Sidoarjo. “Kami menghormati keputusan wasit, walaupun tadi ada pemain yang dipukul,” kata Sujito.
“Seharusnya ada komunikasi dengan wasit cadangan. Itu tadi pemain kami dipukul. Tapi kami menyadari wasit manusia biasa. Mungkin pandangan wasit tertutup pemain. Yang penting kami selamat dan menang,” kata Sujito.
Sigit Eko Pramono, pelatih Kabupaten Mojokerto, menyebut anak-anak asuhnya sudah berjuang maksimal. “Gol-gol terjadi karena human error saja, bukan karena penampilan lawan luar biasa. Kiper dua kali blunder, pemain kami melakukan pelanggaran yang tidak penting, dan bola clearance terbentur kembali ke gawang sendiri. Semua itu di luar nalar,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”porprov”]
Pemain belakang Mojokerto panik dan kurang sabar dalam menghadapi bola yang datang ke pertahanan. “Coba bola didelay. Wong pemain lawan dengan cuaca seperti ini susah sekali melewati pemain kami, karena bola terhenti, kata Sigit.
Sigit menilai pertandingan berjalan seimbang sebelum hujan turun. “Kami bisa tampil dominan. Pada saat hujan reda, kami juga dominan. Anak-anak gugup dan kurang jeli melihat situasi. Pemain-pemain Pasuruan lebih pintar membaca situasi. Akhirnya kami tertekan dan tak bisa bangkit dari tekanan,” katanya.
Namun Sigit tetap menghargai perjuangan para pemain Mojokerto. “Saya tetap menghormati mereka. Apapun yang terjadi, yang kami pikirkan ke depan. Tidak ada yang tidak mungkin. Kami berpikir positif. Saya angkat topi kepada anak-anak. Kesalahan biar dibebankan ke pelatih,” katanya. [wir/but]






