Bangkalan (beritajatim.com) – Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang saat ini semakin menyebar di berbagai wilayah di Kabupaten Bangkalan. PMK berdampak pada menurunnya transaksi jual beli hewan ternak.
Ahmad Ridhoi salah satu pedagang sapi asal Kelurahan Langkap Kecamatan Langkap, Bangkalan mengatakan, jumlah pedagang dan pembeli saat ini menurun. Padahal, biasanya pasar hewan di Burneh selalu ramai. Terlebih saat menjelang lebaran Iduladha.
“Sejak PMK ini merebak, pasar menjadi sepi. Kalau tahun lalu, saat menjelang Hari Raya Kurban biasanya sebanyak 100 ekor sapi ada di pasar ini. Namun saat ini hanya berkisar 30-an saja,” ungkapnya, Sabtu (11/6/2022).
Selain itu, Ridhoi mengaku mengalami penurunan omset penjualan hewan ternak. Sebab, mayoritas pedagang di Bangkalan menjual ternaknya ke luar kota termasuk ke luar pulau.
“Kami biasanya kirim ke Kalimantan dan Jakarta. Pelanggan kami dari sana semua. Namun karena pembatasan, kami hanya bisa menjual di pasar dengan harga hewan ternak yang menurun,” ujarnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”bangkalan”]
Ia berharap, pemerintah segera memberikan kebijakan baru agar pedagang ternak bisa kembali menjual keluar daerah dengan tetap mengikuti protokol penanganan wabah PMK.
Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan Ahmat Hafid mengatakan meskipun wabah PMK menyerang hampir seluruh tempat di Bangkalan, rencana penutupan pasar tidak akan dilakukan. Sebab, hal itu bisa semakin mempersulit perekonomian pedagang ternak.
“Belum ada rencana tersebut karena akan semakin memberikan dampak penurunan perekonomian masyarakat terutama pedagang. Kami telah memberikan edukasi agar pedagang hanya membawa ternak sehat ke pasar, agar tidak menulari yang lain,” pungkasnya. [sar/but]






