Mojokerto (beritajatim.com) – Satu dari 767 Calon Jemaah Haji (CJH) asal Kabupaten Mojokerto merupakan CJH termuda yang berkesempatan berangkat tahun ini. Siti Asmaul Nisfiyah yang baru berusia 19 tahun ini merupakan warga Dusun Terong Malang, Desa Simbaringin, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto.
Putri ketiga pasangan almarhum Suhani dan almarhumah Asmiati ini mendapatkan tiket keberangkatan haji dikarenakan pelimpahan porsi dari orang tuanya yang harusnya naik haji tahun 2020 lalu. Santriwati Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Mas’udy Simbaringin ini, berangkat bersama kakak keduanya, Arif Rohman (32).
Kedua orangnya meninggal lantaran sakit sehingga keduanya berangkat ke tanah satu karena pelimpahan porsi dari kedua orang tuanya. Sang kakak mendapatkan pelimpahan porsi haji dari sang ayah, sementara Ninis (panggilan akrab, red) mendapatkan pelimpahan porsi dari sang ibu.
[berita-terkait number=”5″ tag=”haji”]
Ditemui beritajatim.com di rumahnya, haji muda asal Kabupaten Mojokerto kelahiran 24 Oktober 2002 ini mengaku bahagia. “Perasaan saya bangga karena bisa haji di usia muda. Saya bersyukur banget karena ini pelimpahan dari orang tua saya karena orang tua saya meninggal,” ungkapnya, Rabu (8/6/2022).
Masih kata Ninis, ia berangkat bersama kakak keduanya karena pelimpahan porsi haji dari kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya seharusnya berangkat haji pada tahun 2020 lalu, namun karena pandemi Covid-19 sehingga keberangkatannya ditunda hingga keduanya meninggal dunia.
“Aslinya tahun 2020, ada pandemi, haji diundur. Berangkat sekarang tapi orang tua saya meninggal. Perasaannya bahagia, senang bisa mewakili orang tua pergi haji. Persiapannya, setiap hari olahraga. Pagi jalan-jalan, minuman air putih yang banyak, minum vitamin. Saya juga sudah menyiapkan vitamin untuk dibawa,” katanya.
Hafidz Al Qur’an ini tidak menyangka bisa menunaikan rukun Islam ke-lima di usia muda. Hingga jelang keberangkatan dalam Kelompok Terbang (Kloter) 29 Embarkasi Surabaya tanggal 23 Juni 2022, Ninis mengaku masih belum percaya. Meski keberangkatan merupakan pelimpahan porsi haji dari orang tuannya.
“Saya nggak nyangka kalau saya akan berangkat haji di usia muda ini. Prioritas saya, saya mendoakan kedua orang tua saya di sana (tanah suci). Ya sebenarnya gugup juga mau berangkat. Saya niat mendoakan orang tua saya, karena berkat mereka juga saya bisa ke tanah suci,” ujarnya.
Sementara itu, sang tante Nanik Hidayati (43) menambahkan, jika kedua orang tuanya meninggal akibat sakit. “Ayah, Suhani meninggal di usia 55 pada puasa tahun 2021. Sementara ibunya, Asmiati (53) meninggal bukan Januari 2022. Jaraknya 8 bulan, keduanya mendaftar haji tahun 2012,” tambahnya.
Adik dari sang ayah ini menuturkan, jika saat ayah Ninis meninggal ia sudah meminta izin ke tempat Ninis menuntut ilmu untuk meneruskan ibadah haji sang ayah tidak diizinkan. Pihak pondok beralasan karena hafalan Al Qur’an belum katam dan masih memiliki dua orang kakak laki-laki.
“Awalnya bapaknya meninggal, saha mengizinkan ke pondok mau menggantikan bapaknya haji tidak boleh bu kyai. Karena masih hafalan dan masih ada dua kakak. Setelah ibunya tidak ada baru boleh dan alhamdulillah langsung ditanggapi Kemenag juga. Sehingga prosesnya cepat,” jelasnya.
Ia berangkat menggantikan sang ibu karena kakak keduanya Samsul Arif (34) mengaku belum siap sehingga Ninis yang berangkat. Nanik menjelaskan, jika kedua kakaknya sudah tidak tinggal bersama Ninis lantaran keduanya sudah berumah tangga dan sudah tidak satu rumah.
“Iya rumah kosong, tiap hari dia (Ninis) di pondok. Ini kan sudah dapat izin dari pondok, sebulan sebelum keberangkatan untuk persiapan mulai manasik hingga karantina. Kakaknya pertama tinggal di Payungrejo, Kutorejo, yang kakaknya yang kedua rumahnya di Kalikatir, Gondang. Dia berangkat sama kakak keduanya,” tuturnya.
Masih kata Nanik, untuk pulang ke rumah jika tahfidz cukup sulit. Yakni satu tahun sekali, sementara untuk santri biasa bisa enam bulan sekali. Namun lantaran ponpes berada dalam satu desa sehingga bisa pulang untuk bertemu dengan keluarga cukup leluasa.
“Dia hafiz 18 juz. Sehari-hari susah pulang, tahfidz setahun, enam bulan yang biasa. Karena satu desa masih bebas sambang (pulang ke rumah). Santri banyak luar kota, dari Malang, Gresik. Ini sudah dapat izin satu bulan sebelum berangkat. Sejak manasik saya pamitkan,” tegasnya. [tin/kun]








