Surabaya (beritajatim.com) – Pemerintah Kota Surabaya tengah merevitalisasi rumah kelahiran Pahlawan Proklamator Ir Soekarno atau Bung Karno di Jalan Pandean Gang IV Nomor 40, Kota Surabaya. Rumah ini diproyeksikan sebagai museum.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mengungkapkan rumah tersebut tidak akan dipindah dari lokasi asalnya. Tetapi, lingkungan sekitar rumah akan turut direvitalisasi dengan mengusung konsep Kampung Kebangsaan.
“Lokasi rumahnya tetap. Justru, kami tambah dengan menaruh museum di sini. Kami jadikan wisata sejarah baru di Surabaya,” kata Eri di Surabaya, Selasa (7/6/2022).
Eri menyatakan proses revitalisasi bangunan aset milik Pemkot Surabaya itu masih berjalan. Pihaknya menargetkan destinasi wisata museum ini segera dibuka.
Dengan konsep Kampung Kebangsaan, rumah kelahiran Bung Karno akan terhubung dengan lingkungan sekitar. Sehingga akan hidup suasana tempo dulu laiknya ketika Bung Karno lahir.

Apalagi mengingat rumah tersebut terletak tidak jauh dari rumah milik HOS Cokroaminoto di Jalan Peneleh Gang VII Nomor 29-31. Tempat ini tidak bisa dipisahkan dari kisah hidup Bung Karno karena pernah menjadi indekos saat Pahlawan Proklamasi tersebut sedang menempuh pendidikan di Surabaya.
Ada pula Langgar Dhuwur, sebuah mushola berusia 2 abad yang jadi tempat Bung Karno belajar baca tulis Alquran serta ilmu agama. Sebelumnya, Pemkot Surabaya telah meresmikan rumah kediaman HOS Tjokroaminoto menjadi museum pada 27 November 2017.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Surabaya”]
“Di rumah HOS Cokroaminoto, Bung Karno juga sempat kos saat bersekolah di HBS (Hoogere Burgerschool Surabaya),” kata Eri.
Dengan revitalisasi ini, Eri berharap lingkungan kelahiran Bung Karno dapat menjadi destinasi wisata pendidikan yang inspiratif. Wisatawan, khususnya para pelajar, dapat belajar sekaligus meneladani semangat Bung Karno dalam membangun bangsa.

“Semangat Bung Karno bisa masuk ke dalam jiwa anak muda. Apalagi, Surabaya terkenal sebagai Kota Pahlawan. Selain Bung Karno, juga ada Bung Tomo dan pahlawan lainnya yang menggelorakan semangat melawan penjajahan,” tegasnya.
Baginya, ideologi Bung Karno dalam memerdekakan Indonesia sudah seharusnya menjadi pelecut generasi milenial untuk berjuang. “Kita harus berjuang agar merdeka dari kemiskinan dan pengangguran,” ujarnya.
Tak hanya sekadar museum, Eri juga menyebutkan, bahwa kawasan ini juga akan ditambah sentra Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). “Selain produsen makanan, kami ajak para pengrajin cinderamata seputar Bung Karno,” tuturnya.
Ketua DPRD Kota Surabaya, Adi Sutarwijono menyatakan dukungan terhadap upaya revitalisasi yang dijalankan Pemkot. Menurutnya, sudah selayaknya para anak muda sekarang meneladani semangat Presiden pertama RI ini.
“Pelestarian sejarah harus dilakukan dan menjadi hal yang harus dijaga. Sehingga, anak muda senantiasa sadar. Bahwa Bung Karno dilahirkan dan digembleng di Peneleh, sehingga Surabaya ini memang merupakan dapur pergerakan nasional Indonesia,” kata Awi panggilan lekatnya.
Awi menambahkan, bahwa di rumah Jalan Pandean Gang IV No. 40 Surabaya, Presiden Pertama RI dilahirkan saat matahari mulai menyingsing di ufuk timur. “Sehingga, beliau (Bung Karno) dikenal sebagai Sang Putra Fajar,” pungkasnya. [asg/beq]






