Ponorogo (beritajatim.com) – Pasar hewan Jetis akhirnya akan dilakukan penutupan. Penutupan ini dilakukan untuk pencegahan penyakit mulut dan kuku ( PMK), supaya tidak meluas di Kabupaten Ponorogo. Pasalnya, hingga saat ini tercatat ada ratusan kasus PMK yang sudah ada di 10 kecamatan.
“Sudah kita komunikasikan dengan Dinas Perdagkum. Secara teknis kemarin itu belum sempat ditutup, karena waktunya yang mepet. Mungkin mulai hari Jumat nanti ditutup,” kata Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Peternakan (Dipertahankan) Kabupaten Ponorogo, Masun, Senin (6/6/2022).
[berita-terkait number=”5″ tag=”penyakit-PMK”]
Penutupan pasar hewan Jetis ini, sudah berdasarkan dari rekomendasi pejabat otoritas veteriner (oto-vet). Dari hasil kajian dari pejabat inilah, untuk pencegahan penyakit PMK lebih meluas, direkomendasikan ditutup. Bapak Bupati, kata Masun juga setuju penutupan ini. Hal itu dilakukan supaya tidak gaduh sampai hari raya tiba.
“Sudah kami konsultasikan ke Bapak Bupati, juga menyetujui. Biar tidak gaduh, dan menghindari penyebaran PMK yang lebih meluas,” ungkap Masun.
Terkait pasar hewan lainnya, yakni pasar hewan di Kecamatan Kauman dan Kecamatan Pulung, Masun menyebut bahwa yang ditutup pasar yang konsentrasi sapinya tinggi. Nah, untuk sementara penutupan dilakukan di pasar hewan Jetis. Namun, tidak menutup kemungkinan dua pasar hewan itu juga ditutup. “Kalau kajian teknis sementara yang ditutup ya cuma pasar hewan Jetis,” katanya.
Dipertahankan Ponorogo, kata Masun membentuk tim monitoring. Tim tersebut bertugas untuk mengecek apakah ada aktivitas di pasar tersebut nantinya jika dilakukan penutupan. Jangan sampai, ada pasar hewan dadakan di sekitar pasar hewan yang dilakukan penutupan.
“Berkaca daerah-daerah lain, ketika pasar hewan ditutup, para pedagang malah membuat pasar dadakan. Jangan sampai seperti itu, jangan sampai semua terkena. Nanti bisa menimbulkan pasokan daging kurban jadi sulit,” pungkasnya. (end/kun)






