Surabaya (beritajatim.com) – Persaingan di bisnis kuliner sangat ketat. Tak sedikit tempat makan harus gulung tikar akibat gempuran resto modern.
Hanya sedikit pelaku usaha kuliner yang mampu bertahan. Salah satunya, Kedai Priangan Kang Uus yang mengandalkan otentisitas Sunda dalam sajiannya.
Kedai Priangan Kang Uus menyajikan kuliner berbasis sambelan ini sudah berdiri sejak era 90-an dan mampu bertahan hingga saat ini. Kedai tersebut kini dikelola Kang Uus yang merupakan anak dari pendiri usaha kuliner khas Sunda itu.
Kang Uus mulai mengambil alih bisnis kuliner ayahnya sejak tahun 1996 dan bertahan hingga kini. Tak ada yang berubah dari cita rasa menu Kedai Priangan Kang Uus, dengan otentisitas yang tetap terjaga.
Kang Uus mengaku seluruh menu diolah berdasarkan resep yang didapatnya dari sang ayah. Termasuk pula soal bahan baku, dia memilih nurut pada pakem dari ayahnya.
“Tidak ada yang saya ubah sama sekali, bahkan saat semua bahan baku mahal saya tetap mempertahankan bumbu dan kualitasnya,” ujar Uus kepada beritajatim.com.

Uus mengaku tatkala bahan makanan begitu mahal, dia harus memutar otak. Bahkan merelakan tabungannya untuk menutupi pengeluaran agar dapat berproduksi dengan tetap menjaga kualitasnya.
Hal itu dibenarkan Kang Agung. Sudah 12 tahun lamanya dia membantu Uus, sehingga hapal betul karakter masakan dari warung makan berlokasi di Jalan Ngagel Raya itu.
“Aa itu meskipun harga cabai Rp400 ribu sekilo tetap dibeli, dia nggak kurang-kurangin bumbunya,” kata Agung.
“Ya kan itu yang orang pertama kali cari, kualitas dan cita rasa yang tidak berubah. Meski begitu saat bahan-bahan mahal saya tidak menaikkan harga sama sekali. Karena menurut saya, kalau saya tidak konsisten, nanti saya yang rugi sendiri, yang biasanya beli 3-4 bungkus bisa-bisa cuma beli 1 bungkus atau malah malas beli jadinya,” kata Uus menambahkan.
Selain kualitas dan cita rasa, Uus mengungkapkan hal yang selalu dia tekankan dalam menjalankan bisnis kuliner adalah attitude atau sikap kepada pelanggan dan rekan kerja. Tidak ada strategi khusus, hanya sopan santun dan keramahan.
“Saya menekankan ke karyawan untuk terus menjaga ramah tamah dan sopan santun, kalau pelanggan nyaman sama pelayanannya membuat mereka betah dan terus ingin makan di sini,” tukasnya.

Uus pun mengakui selama 26 tahun meneruskan usaha kuliner ayahnya, kedainya tidak pernah tutup. Namun demikian, adakalanya omset menurun drastis, seperti saat pandemi Covid-19.
“Saat pandemi itu omset menurun drastis, bisa dibilang menurun 75 persen. Saya bahkan sudah hampir menyerah dan bilang ke istri, ‘Gimana bu, tutup saja kah?’,” kata dia.
Tetapi sang istri justru berkata lain. Istri meminta Uus bertahan dan terus berusaha mengingat banyak karyawan yang mengantungkan hidupnya dari kedai ini.
“Alhamdulillah saya tidak memulangkan satu orang karyawan pun, masih diberi kelancaran sampai sekarang,” terangnya.
Uus pun dikenal sebagai owner yang begitu bersahaja dan pemurah di kalangan karyawan. Ia bahkan tak segan untuk memberi dan membagikan resep kepada siapapun yang ingin menjalankan bisnis serupa dengannya.
“Aa itu loman (dermawan, red) sekali, siapa-siapa yang lapar kasih makan, tidak perlu mikir, bahkan kalau ada yang ingin buka usaha sambelan dan minta resepnya ke Aa, dikasih, nggak ada pamrih Aa itu,” ungkap Agung.
“Kalau ada yang ingin buka usaha seperti ini sendiri dan meminta bantuan saya, saya bukakan pintu rumah, saya suruh melihat langsung gimana saya masak dan belajar langsung di rumah saya sampai bisa. Karena bagi saya rezeki itu Tuhan yang mengatur, kita hanya bisa berbagi toh nanti itulah pancingan agar Tuhan membagi rezeki yang berkali-kali lipat untuk kita,” kata Uus.
Hasil dari berbisnis yang seperti itu membuat kedai Priangan Kang Uus masih terus bertahan sampai sekarang, bahkan di akhir pekan, Kedai Priangan Kang Uus mampu menjual 80 ekor ayam dan bebek atau 320 potong, 30 lebih bandeng presto dan sekitar 25 burung dara.
“Alhamdulillah, kalau akhir pekan bisa lah habis 500 porsi, itu saya sudah gak bisa duduk, gak ada waktu,” terangnya.
Meski memiliki 7 karyawan, Kang Uus masih turun tangan memasak dan melayani pembeli. Bahkan semua proses produksi, dari belanja, memasak dan menyiapkan bahan untuk dibawa ke kedai, Kang Uus juga ikut terlibat dan memastikan kualitas tetap terjaga dengan baik. (adg/beq)






