Ponorogo (beritajatim.com) – Pasca ledakan petasan di Desa Polorejo Kecamatan Babadan Ponorogo, korban ledakan yang bernama Muhammad Taufiq (29), langsung ditolong oleh warga untuk dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Harjono Ponorogo. Di tempat tidur rumah sakit, korban merintih kesakitan. Sebab, Ia mengalami beberapa luka, yakni luka di kedua tangan, luka lecet di wajah dan luka di kedua kakinya.
“Tadi pagi kondisi pasien korban ledakan petasan asal kecamatan Babadan keadaannya baik dan kesadarannya baik,” kata Humas RSUD Dr Harjono Ponorogo, S Joko Handoko, Minggu (1/5/2022).
Kondisinya saat masuk rumah sakit pada tadi malam, mengeluhkan pusing, mual bahkan muntah sekali. Pasien, juga sering mengalami pendarahan, sebab dua jari jempol, baik tangan kanan maupun kiri mengalami putus karena ledakan petasan itu. Jari jempol kanan sudah putus, sementara untuk jari jempol tangan kiri nyaris putus, hanya kulitnya yang belum putus.
“Kondisi jari jempol tangan kiri yang seperti itu, ya harus cepat dilakukan tindakan operasi,” katanya.
Selain mengalami pendarahan di tangan, korban juga mengalami pendarahan di kedua kakinya. Ada juga luka yang di dagunya. Saran dari dokter, yang bersangkutan harus dioperasi. Namun, yang menjadi kendala saat ini, pembiayaan langkah medis untuk korban Muhammad Taufiq ini tidak bisa dicover oleh BPJS.
“Kebetulan korban punya BPJS, namun kasus kecelakaan karena kelalaian, pihak BPJS tidak menanggung,” katanya.
Joko menghimbau dari kasus ini, bisa menjadi perhatian semua. Bahwa dari tindakan kecerobohan berdampak tidak bagus, dan efeknya berat sekali. Pembiayaannya harus ditanggung mandiri.
“Ini harus menjadi kehati-hatian masyarakat. Kasus kelalaian seperti ini, tidak ditanggung BPJS Kesehatan,” pungkasnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”petasan-meledak”]
Untuk diketahui, Muhammad Taufiq (29), korban ledakan petasan di Desa Polorejo Kecamatan Babadan, saat itu berada di dapur rumahnya sendirian. Keluarganya, ibu, kakak dan adiknya masih berada di masjid. Penyebab petasan itu meledak pun masih menjadi misteri. Sebab, meski dalam kondisi sadar, korban saat ini masih belum bisa dimintai keterangan.
“Dia meracik sendiri di dapur rumahnya. Sebab terjadi ledakan, dinyalakan atau terkenan panas, kami juga belum tahu pastinya. Yang tahu ya korban sendiri, sementara yang bersangkutan belum bisa dimintai keterangan,” kata Kapolsek Babadan AKP Yudi Kristiawan.
Dugaan sementara, saat perakitan itu ada kesalahan, sehingga menyebabkan racikan bahan petasan itu meledak. Sebab, korban ini dimungkinkan masih mencoba-coba dalam membuat petasan tersebab. Hal itu dikuatkan dari keterangan dari ibunya, bahwa yang bersangkutan melihat meracik bahan-bahan untuk menjadi serbuk petasan itu lewat youtube.
“Informasi dari ibunya, melihat meracik bahan petasan lewat youtube. Jadi ini masih coba-coba baru pertama kali, akhirnya meletus,” katanya. [end/but]






