Jember (beritajatim.com) – Ratusan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi berunjuk rasa di depan gedung DPRD Jember, Jawa Timur, Selasa (12/4/2020).
Mereka berasal dari Universitas Jember, Universitas Muhammadiyah, Universitas Islam Jember, dan Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq. Sejumlah poster dibentangkan untuk menyuarakan protes mereka, seperti ‘Selesaikan Persoalan Minyak Goreng’, ‘Butuh Pawang Minyak Bukan Pawang Hujan’, ‘BBM Naik Kaum LDR Menjerit’, ‘Demi Rakyat Aku Rela Skin Care-ku Ambyar’.
Koordinator Aliansi BEM Jember M. Yayan mengatakan, ada empat bentuk kezaliman pemerintah. “Pertama, wacana penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden. Kedua, kenaikan pajak pertambahan nilai, harga bahan bakar minyak, dan harga baham pokok,” katanya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”demo”]
Bentuk kezaliman ketiga adalah harga minyak goreng yang tak kunjung stabil akibat kebijakan yang tak tepat sasaran. Kezaliman berikutnya adalah pembangunan ibu kota nusantara.
Melihat kezaliman itu, mahasiswa mengeluarkan empat tuntutan. “Mendorong Ketua DPRD Jember dan perwakilan parpol di komisi-komisi untuk menandatangani pakta integritas. Kami juga mendesak Ketua DPR RI dan presiden secara tegas menolak penundaan pemilu 2024,” kata Yayan.
Mahasiswa menuntut DPRD Jember agar mendesak presiden menyelesaikan persoalan tingginya harga minyak goreng. “Kami minta Presiden me-reshuffle Menteri Perdagangan,” kata Yayan. Terakhir, mahasiswa mendesak pemerintah untuk mencabut ketetapan PPN 11 persen. (wir/kun)






