Surabaya (beritajatim.com) – Bulan Maret, kita akan menemukan peringatan Bandung Lautan Api. Namun, bukan tentang sejarah yang akan dibahas tapi mengenai keunikan dari orang Sunda. Mayoritas suku yang terdapat di kota Bandung.
Secara umum dalam membangun interaksi sosial, orang Sunda mematuhi nilai budaya kehidupan sosial melalui etika Sunda. Biasanya, pada budaya Sunda terdapat ungkapan mengenai ciri sabumi ciri sadesa. Ungkapan ini berarti di setiap lingkungan ada ciri dan tata cara yang mempengaruhi tindak tanduk penghuninya.
Sebuah ungkapan berkaitan dengan etika pada orang Sunda mengenai kesadaran di setiap lingkungan budaya tak terkecuali dari nilai-nilai etis penghuninya. Tentu saja, sama halnya dengan suku lainnya, orang Sunda memiliki berbagai keunikan yaitu:
Pengucapan pada huruf F terdengar seperti P
Ini mungkin sudah menjadi ciri umum yang melekat pada orang sunda dengan pelafalan huruf F menjadi P walaupun memang tidak semuanya.
Tapi, jika dijelaskan secara ilmiah, orang Sunda sering menyebut bacaan F atau V menjadi P alasannya huruf ini memang tidak dikenal dengan aksara Sunda atau Kaganga. Hingga akhirnya, bahasa itu menjadi turun temurun menjadi kebiasaan orang Sunda.
Penggemar Petai dan Jengkol
Bicara mengenai makanan tentu saja petai dan jengkol mungkin bukan sesuatu yang banyak disukai orang sebagian orang. Namun, lain halnya dengan selera orang Sunda.
Ternyata, makanan ini menjadi kesukaan walaupun aromanya yang menyengat ketika di mulut. Biasanya, merek menyukai lalapan, petai dan jengkol dijadikan pelengkap dan penambah cita rasa terhadap kenikmatan makanan.
Saat bicara lebih banyak imbuhan kata “teh” dan “mah”
Biasanya kita mengenal orang sunda dari pengucapannya ketika berbicara seperti penambahan kata “teh” dan “ mah”.
Dengan adanya keunikan dari penambahan kata memang tidak ada perubahan arti walaupun terdapat penambahan kata. Bahkan secara tidak langsung, hal ini menjadi kebiasaan tersendiri bagi orang Sunda.
Rasanya mungkin ada yang kurang jika tidak menambahkan kata itu. Kemungkinan seperti orang Surabaya yang tidak menambahkan kata “ tah “ serupa tapi tak sama. (PRD/ian)






