Surabaya (beritajatim.com) – Dalam hidup ini tentu kita pernah berjumpa dengan seseorang yang memiliki sifat perfeksionis, atau bahkan itu adalah diri kita sendiri.
Pada dasarnya sifat ini dapat memberikan dampak yang positif. Bahkan orang yang perfeksionis cenderung menghasilkan sesuatu dengan tingkat kepuasan yang cukup tinggi.
Meskipun begitu, sikap perfeksionis yang identik dengan standar tinggi sebuah kesempurnaan ini bisa juga memberikan dampak tidak baik.
Terlebih jika diterapkan secara berlebihan. Salah satu hal negatif yang bisa terjadi ialah terganggunya kesehatan mental.
Kesehatan mental pun meliputi banyak hal. Beberapa di antaranya bahkan dapat menurunkan rasa percaya diri atau insecure. Hal ini tentu tidak lepas dari perasaan yang tidak mudah puas akibat ekspektasi yang dirasa berlebihan.
Sehingga ketika kesempurnaan itu dirasa belum tercapai, maka ia akan merasa tidak percaya diri untuk mendengar hasilnya.
Bahkan alih-alih mendapatkan hasil yang sempurna, mereka justru sering kali lebih lama untuk mulai bertindak.
Mereka terlalu fokus pada perencanaan yang sempurna dan hasil yang maksimal, hingga kerap kali lupa bahwa waktu yang dibutuhkan tinggal sedikit lagi. Ini juga yang membuat para perfeksionis jadi overthinking terhadap berbagai hal dan kemungkinan.
Tak ayal jika kemudian perasaan kecewa dan sedih secara berlebihan ikut mempengaruhi. Semua itu tidak lepas dengan adanya sebuah harapan yang diinginkan pada target tertentu, namun dirasa kurang berjalan secara maksimal.
Jika situasi tersebut kerap terjadi dalam kurun waktu cukup lama, tentu dampaknya bisa lebih serius. Seseorang yang perfeksionis ini bisa saja mengalami stres atau bahkan depresi.
Terlebih mereka yang kerap ambisius untuk menyelesaikan semua tugasnya, hingga mengabaikan waktu untuk istirahat.
Selain kesehatan mental, sifat perfeksionis yang berlebihan juga dapat mengganggu aktivitas lainnya. Karena mereka cenderung fokus pada satu hal tertentu yang menurutnya penting dan menarik.
Dari semua dampak negatif tersebut tentu pada akhirnya dapat mempengaruhi kesehatan secara fisik. Mulai dari burnout, perasaan mudah lelah, keluhan sakit kepala, dan lain sebagainya. (fyi/ian)






