Akun Twitter resmi Persebaya mengunggah cuitan menyentil jelang pertandingan melawan Persela Lamongan, Kamis (10/2/2022),
#SalahKetik FC VS dalam kotak #TesMandiri FC
Are you Ready?
Salam satu nyali!
Cuitan ini direspons dengan tawa oleh mayoritas warganet. Salah satu komentar menyebut pertandingan Persebaya melawan Persela bukan derby Jawa Timur, melainkan derby PCR.
Urusan uji polymerase chain reaction (PCR) jadi isu publik yang membawa sepak bola nasional ke perbicangan lebih serius dalam penanganan pandemi Covid-19. Berawal dari hasil tes PCR oleh PT Liga Indonesia Baru (LIB) jelang pertandingan Persebaya melawan Persipura Jayapura, Minggu (6/2/2022), yang membuat sejumlah pemain kunci Bajul Ijo harus absen karena terkonfirmasi positif.
Persebaya kemudian melakukan tes mandiri di rumah sakit yang sama. Hasilnya, sejumlah pemain Persebaya yang dinyatakan terkonfirmasi positif ternyata terkonfirmasi negatif. Dalam situs resminya, Persebaya menyatakan: ‘Setelah menerima hasil tes dari LIB pada 6 Februari, Persebaya pun melakukan tes mandiri pada siang harinya. Tes di laboratorium yang sample-nya diperiksa di rumah sakit yang sama dengan tes LIB. Tes ulang mandiri di hari H pertandingan itu dilakukan untuk mencari second opinion. Karena pemain-pemain disebutkan di atas adalah pemain utama Persebaya’.
Perbedaan hasil tes PCR ini memunculkan perdebatan soal validitas tes dan pertanyaan soal profesionalisme operator PT LIB. Problem tes PCR jelang pertandingan semakin kacau, setelah terungkap adanya kesalahan laporan hasil tes PCR terhadap tim Persela.
Awalnya, PT LIB menyatakan seluruh pemain, pelatih, dan staf Persela terkonfirmasi negatif Covid-19. Pemberitahuan hasil tesb PCR diterima sesaat sebelum para pemain berlatih ringan. Selang setengah jam kemudian, muncul pemberitahuan baru yang menyatakan 11 orang anggota tim Persela, lima orang di antaranya pemain, dinyatakan positif Covid-19.
“Dijelaskan bahwa hasil yang pertama itu benar-benar belum fix, tapi sudah keburu dikirim ke masing-masing tim, akhirnya timbul seperti ini. Jadi murni kesalahan vendor,” kata Manajer Persela Lamongan Taufiq Kasrun.
Kasus PCR juga ditemui di Inggris jelang pertandingan pertama Liverpool melawan Arsenal dalam semifinal Piala Liga, 6 Januari 2022. Liverpool meminta penjadwalan ulang karena adanya sejumlah kasus terkonfirmasi positif di kalangan staf pelatih dan manajemen.
Semestinya Reds bisa mengirimkan pemain-pemain muda mereka. Apalagi Piala Liga biasanya jadi ajang uji coba potensi pemain muda. Hasilnya juga tak buruk. Dalam babak sebelumnya, pemain-pemain muda Reds yang dikombinasikan pemain senior berhasil mengalahkan Leicester melalui adu penalti. Namun kali ini berbeda, karena seluruh tim, termasuk tim usia muda, harus menjalani karantina karena mereka berada di lokasi yang sama dengan tim yang terkonfirmasi positif. Lapangan latihan Axa pun ditutup sementara.
Belakangan kehebohan pecah, setelah Jurgen Klopp dalam konferensi pers menyatakan hasil tes menunjukkan ‘false positive’. False positive adalah kekeliruan dalam penentuan klasifikasi hasil tes, yang seharusnya negatif namun terkonfirmasi positif Covid.
Teori konspirasi pun meledak. Fans Arsenal menyebut Liverpool takut menghadapi The Gunners, karena sejumlah pemain inti mereka absen karena mengikuti turnamen internasional. Klaim yang tentu saja mengada-ada dan bikin ketawa, karena sejak Klopp melatih Liverpool, Arsenal sudah bukan ancaman serius. Sejak 13 Januari 2016 hingga 20 November 2021, Liverpool menang sembilan kali di berbagai ajang dan hanya kalah tiga kali.Itu pun dua kekalahan terjadi dalam adu penalti, yakni Piala Liga dan Community Shield.
Kontroversi tes PCR ini membuat Persebaya meminta PT LIB mengeevalusi proses tes PCR Covid-19 dan klub dibebaskan melakukan tes PCR mandiri yang hasilnya sah dan diakui sebagai dasar untuk menentukan pemain bisa bermain dan ofisial bisa masuk ke area stadion pertandingan.
PT LIB bisa menunjuk rumah sakit atau laboratorium yang kredibel sebagai rujukan dilakukannya tes PCR mandiri. Namun, PT LIB juga menentukan batas waktu hasil tes mandiri bisa digunakan untuk menentukan pemain yang bisa tampil. Misal, 1 jam atau 2 jam sebelum kick-off. Persebaya memandang, harapan pecinta sepak bola tanah air mendapatkan penampilan terbaik dari klub kesayangan masing-masing bisa terwujud apabila prosedur tes PCR dilakukan dengan ideal berdasarkan ilmu pengetahuan.
[berita-terkait number=”4″ tag=”persebaya”]
Akhirnya, setelah berkoordinasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), PT LIB pun membolehkan setiap tim untuk melakukan tes PCR Mandiri. “Kemenko Marves meminta PT LIB untuk memberikan opsi kedua ke setiap tim jika terjadi perselisihan terkait hasil tes PCR,” kata Direktur Operasional PT LIB, Sudjarno, sebagaimana dikutip dari bolaspot.com, Kamis (10/2/2022).
Namun mau tak mau, dalam skala yang lebih luas, kontroversi tes PCR dalam Liga Indonesia berpotensi membuat publik semakin skeptis terhadap penanganan Covid. Apalagi sebelumnya, publik sudah dihebohkan oleh kontroversi hasil tes PCR Burname Farmasi. Skeptisnya publik terhadap penanganan Covid bisa merepotkan di tengah merebaknya varian Omicron. Pemegang otoritas penanganan Covid tidak boleh menganggap remeh setiap isu yang muncul di masyarakat.
Lagi-lagi faktor manusia (man behind the gun) menjadi penentu. Sebagaimana dilansir dari tempo.co, Dosen Farmasi UII, Suci Hanifah, menyebut hasil tes PCR bisa berbeda karena faktor pra-analisis yang meliputi teknik sampling dan penyiapan spesimen, faktor analisis yang tidak valid, dan faktor pasca analisis, yaitu intepretasi hasil. Semua itu melibatkan kemampuan teknis tenaga di lapangan.
Namun tentu saja, faktor manusia tidak boleh selalu dikambinghitamkan jika ada kesalahan. Di tengah kebijakan negara yang menempatkan hasil tes antigen dan PCR sebagai syarat untuk beraktivitas, akurasi uji harus terjaga, jika tak ingin menghambat agenda kerja publik.
Niat baik atay nawaitu tentu jadi kunci, sebagaimana diingatkan Azrul dalam artikelnya di blog Happy Wednesday. “Semoga saja memang bukan karena nawaitu-nya liga ini jelek. Karena kalau nawaitu-nya jelek, ya buat apa klub-klub mengeluarkan biaya begitu besar untuk “memajukan sepak bola Indonesia.” [wir/ted]






