Surabaya (beritajatim.com) – Pada suatu penelitian bertajuk Global Traffic Scorecard tahun 2021, INRIX mengidentifikasi beberapa area perjalanan di dalam kota dan menangkap profil mobilitas lalu lintas di beberapa kota. Melalui data lalu lintas di sub-area perjalanan, Kota Surabaya tercatat sebagai kota termacet di Indonesia.
Hal itu didapat karena kemacetan di kota itu cukup para, para pengendara kehilangan waktu 62 jam dalam setahun. Persentase jumlah waktu terbuang akibat kemacetan di Surabaya meningkat 72% dari penelitian sebelumnya.
Sementara itu, kota Jakarta jadi kota termacet kedua di Indonesia setelah Surabaya. Orang-orang di Jakarta kehilangan 28 jam per tahunnya yang disebabkan oleh kemacetan.
Selanjutnya, peringkat ketiga adalah Denpasar. Kemacetan di kota itu membuat para pengendara kehilangan waktu 31 jam per tahun.
Kendati waktu kehilangan lebih tinggi dari Jakarta, persentase jam terbuang selama 2021 di Bali berkurang 48%. Sementara itu, di Jakarta memiliki persentase jam terbuang berkurang 81%.
Peringkat keempat adalah kota Malang. Kemacetan membuat para pengendara di Malang kehilangan waktu 29 jam. Persentase kehilangan waktu berkurang 49%.
Adapun Kota Bogor menduduki posisi kelima kota termacet di Indonesia. Kemacetan membuat para pengendara kehilangan waktu 7 jam per tahun. Persentase kehilangan waktu berkurang 224%.1.
Salah satu fakta yang mengejutkan adalah kota Surabaya. Selain sebagai kota termacet di Indonesia. Surabaya juga tercatat pada peringkat ke-41 kota termacet di seantero dunia.
Untuk Jakarta berada pada peringkat kedua kota termacet di Indonesia dan peringkat ke-222 kota termacet di dunia. Denpasar ada pada peringkat ketiga dan peringkat ke-291 kota termacet di dunia.
Malang menjadi peringkat keempat dan peringkat ke-334 kota termacet di dunia. Dan Kota Bogor berada pada peringkat kelima kota termacet di Indonesia dan peringkat ke-821 kota termacet di dunia.
Data tersebut didapatkan setelah Global Traffic Scorecard Inrix menghitung kehilangan waktu lewat analisa data kecepatan puncak saat lalu lintas padat dan kecepatan saat lalu lintas lancar.
Total waktu yang hilang dihasilkan dari perbedaan waktu perjalanan yang dialami selama periode puncak jam sibuk bisa dibanding dengan kondisi arus bebas per pengemudi. Artinya, ini merupakan perbedaan antara mengemudi selama jam sibuk dengan mengemudi pada malam hari saat kendaraan senggang. (dan/ian)






