Surabaya (beritajatim.com) – Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional BRIN menuturkan informasi bahwa di 3 ibukota provinsi di belahan utara Indonesia dan 36 lokasi lainnya akan mengalami fenomena Ekuiluks.
Dari berbagai wilayah yang yang disebut ada yang telah mengalami ekuiluks dan sebagain besar diprediksi akan segera terjadi di Bulan Februari ini. Daftar lengkap lokasi Indonesia yang mengalami disebutkan di akhir artikel ini.
Sebagian besar masyarakat belum mengetahui apa yang dimaksud dengan ekuiluks serta bagaimana dampaknya bagi kehidupan masyarakat. Simak ulasan berikut ini.
Ekuiluks merupakan fenomena astronomis saat durasi panjang siang tepat sama dengan lamanya malam, yaitu 12 jam untuk malam hari dan 12 jam tepat untuk siang.
Langit akan mulai tampak terang saat terjadi aram beberapa saat sebelum matahari terbit maupun beberapa menit usai matahari terbenam. Di Indonesia sendiri, fenomena ekuiluks bisa saja akan terjadi dua kali dalam setahun pada wilayah yang sama.
Untuk saat ini terjadi di 39 kota di wilayah Indonesia bagian utara pada 20 Januari 2022 hingga 26 Februari 2022 mendatang. Adapun Daftar kota yang mengalami fenomena ekuiluks di Indoneia terbagi atas ibu kota provinsi dan 36 kota lain dalam lima provinsi.
Ada tiga ibu kota provinsi yang akan mengalami ekuiluks, meliputi: Tanjungselor (Kalimantan Utara) tanggal 27 Januari. Medan (Sumatera Utara) pada 10 Februari. Serta Banda Aceh (NAD) di tanggal 25 Februari.
Selain 3 kota itu, berikut ini 36 kota lain pada lima provinsi berbeda yang akan mengalami fenomena ekuiluks mulai dari tanggal 20 Januari hingga 26 Februari yang akan datang meliputi:,
Kota Subulussalam (NAD): 20 Januari Sidikalang
Provinsi Sumatera Utara: 24 Januari
Pulau Subi (Kep. Riau): 28 Januari
Pematangsiantar (Sumatera Utara): 29 Januari
Kisaran (Sumatera Utara): 30 Januari
Tanjungbalai (Sumatera Utara): 30 Januari
Anambas (Kepulauan Riau): 31 Januari
Kabanjahe (Sumatera Utara): 2 Februari
Berastagi (Sumatera Utara):4 Februari
Tapaktuan (Sumatera Utara): 5 Februari
Tebingtinggi (Sumatera Utara) : 6 Februari
Tarakan (Kalimantan Utara): 6 Februari
Kutacane (NAD): 9 Februari
Deli Serdang: 9 Februari
Tanjungmorawa: 9 Februari
Lubukpakam (Sumatera Utara): 9 Februari
Binjai (Sumatera Utara): 10 Februari
Tahuna (Sulawesi Utara): 10 Februari
Blangpidie (NAD) : 12 Februari
Stabat (Sumatera Utara): 12 Febuari
Pulau Natuna (Kepulauan Riau): 13 Februari
Pangkalanbrandan (Sumatera Utara): 14 Februari
Blangkejeren (NAD): 14 Februari
Melongguane (Sulawesi Utara): 15 Februari
Meulaboh (NAD): 16 Februari
Nunukan (Kalimantan Utara): 17 Februari
Langsa (NAD): 18 Februari
Takengon (NAD): 20 Februari
Dampulis (Sulawesi Utara) : 21 Februari
Benermeriah (NAD): 21 Februari
Lhoksumawe (NAD): 23 Februari
Bireuen (NAD): 23 Februari
Sigli (NAD): 24 Februari
Jantho (NAD): 24 Februari
Miangas (Sulawesi Utara): 25 Februari
Sabang (NAD): 26 Februari
Sebagaimana dengan ekuinoks, ekuiluks bisa terjadi dua kali setahun. Fenomena ini mungkin akan terjadi lagi di 15 Oktober (Sabang) hingga 18 November (Subulussalam) mendatang. (dan/ian)






