Lamongan (beritajatim.com) – Universitas Islam Lamongan (Unisla) melaunching Aswaja Center sebagai upaya meneguhkan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah (Aswaja) dan menangkal paham ekstremis di tengah kompleksitas kehidupan yang beragam.
Prosesi pengukuhan Aswaja Center tersebut dilakukan bersamaan dengan peringatan Harlah Nahdlatul Ulama (NU) yang ke-96, pada Senin (31/1/2022) siang, di Masjid Muhadlorotul Afkar, Unisla, Lamongan.
Ketua Biro Humas dan Aswaja Unisla, Dwi Aprilianto menyampaikan, bahwa Aswaja Center ini didirikan untuk meneguhkan identitas ke-Aswajaan dan ke-NU-an kampus UNISLA sebagai mercusuar perkembangan Aswaja Jawa Timur, utamanya di Lamongan.
“Aswaja Center di Unisla ini menjadi harapan agar mahasiswa dan dosen semakin dekat dengan nilai-nilai ke-Aswaja-an dan ke-NU-an, sehingga bisa berjuang menyebarkan nilai-nilai ke-Aswaja-an dilingkungan terdekatnya,” ujar Dosen yang akrab disapa Dwi kepada wartawan.
[berita-terkait number=”5″ tag=”unisla”]
Menurut Dwi, Aswaja Center ini memiliki tujuan untuk mengkoordinasi semua elemen kampus dalam mengenalkan, menjaga, memperkuat dan menyebarluaskan harakah, fikrah, dan amaliah Aswaja. Sehingga terwujud insan akademis yang berahlakul karimah berlandaskan nilai-nilai Aswaja.
Mengenai tugas pokok Aswaja Center ini, Dwi menyebut, di antaranya untuk memfasilitasi civitas akademika dalam mengimplementasikan harakah, fikrah, amaliah Aswaja an-Nahdliyyah, lalu juga sebagai media komunikasi dan interaksi antara akademika Unisla dengan stakeholders internal NU.
Selain itu, juga untuk meningkatkan pemahaman akademika Unisla secara kaffah terhadap historisitas Aswaja An-Nahdhiyyah sehingga tergerak untuk berkhidmah secara total terhadap NU. Serta Memperkuat sanad keilmuan Aswaja-NU bagi civitas akademika Unisla. “Ada beberapa Devisi di Aswaja Center ini, meliputi Devisi Kajian, Pendidikan, Pengembangan SDM dan Dakwah, lalu Devisi Media, Informasi dan Kerjasama,” terangnya.
Lebih lanjut, Dwi berharap, sejumlah program yang telah dicanangkan Aswaja Center pun nantinya dapat berjalan optimal. Program itu meliputi Pendidikan Kader Penggerak Nahdiatul Ulama (PKPNU), kerjasama Kelembagaan, dan penyusunan kurikulum Aswaja.
“Kami juga ada program pendampingan Aswaja di Pesantren dan Madrasah. Lalu kajian kitab secara rutin, seminar atau webinar deradikalisasi, podcast tentang isu aktual keIslaman serta pemberitaannya di media sosial,” paparnya.
Sementara itu, Wakil Rektor I Unisla, Dr Zulkifli Hasan yang juga pembina Aswaja Center ini mengungkapkan, bahwa keberadaan Aswaja Center ini sangat penting. Dengan begitu, civitas akademika Unisla bisa turut menangkal ajaran radikal dan menyimpang.
“Aswaja Center ini sangat penting. Selain itu, Aswaja An-Nahdliyah juga menjadi mata kuliah yang wajib diajarkan di seluruh fakultas, yakni sekurang-kurangnya mahasiswa Unisla harus mengikuti setidaknya 6 SKS,” ungkap Zulkifli.
Zulkifli berharap, Aswaja Center di Unisla ini bisa terus istiqomah dalam menebar kemanfaatan, khususnya dalam meneguhkan dan menyebarluaskan Islam yang rahmatan lil Alamin. “Aswaja ini tak hanya bicara soal halal dan haram saja, namun juga tentang nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin, Islam yang moderat, humanis, menebar kasih sayang kepada seluruh alam,”
“Sebagai kampus yang didirikan oleh tokoh-tokoh NU di Lamongan, semoga Unisla tetap istiqomah dalam menjaga dan memperkuat Aswaja An-Nahdliyah. Dan bagi mahasiswa yang telah meniti karirnya, semoga dengan Aswaja ini, mereka turut menyebarkan Aswaja di lingkungannya masing-masing,” pungkasnya.[riq/kun]






