Zawawi Imron, pujangga asal Madura, meminta agar semua pihak bersyukur dengan pembangunan kebudayaan di Kabupaten Jember, Jawa Timur. “Apa yang ada ini harus disyukuri. Kalau mengatakan tidak ada (kemajuan), kita anti realitas,” katanya, usai menjadi tamu dalam acara Ngaji Budaya di Pendapa Wahyawibawagraha, Minggu (2/1/2022).
Zawawi menyebut perguruan tinggi memegang peran penting dalam pembangunan kebudayaan di Jember. Perguruan tinggi di Jember juga berperan penting dalam pembangunan di daerah lain. “Anak-anak Madura yang kuliah di Jember setelah pulang berbuat untuk kampungnya,” katanya.
Bagi Zawawi, perguruan tinggi adalah lambang kemajuan. “Sebenarnya dulu pada zaman Pak Domo (Panglima Komando Pengendalian Keamanan dan Ketertiban Sudomo) ada Operasi Clurit, saya tidak melawan beliau. Tapi saya bikin puisi ‘Clurit Emas’. Itu bukan celurit besi, tapi (simbol) anak-anak Madura yang siap memerangi kemiskinan, kebodohan, kemelaratan. Itu celurit kebudayaan, celurit peradaban,” katanya.
Ketika puisi itu ditulis pada 1982, menurut Zawawi, masih sedikit sekali anak-anak Madura yang kuliah di Universitas Jember. “Tapi sekarang mungkin hampir separuh anak Madura yang kuliah di sini. Itu sebuah prestasi. Kebudayaan tidak simsalabim, sekarang bikin, sekarang langsung jadi. Tidak, itu sebuah proses,” kata Zawawi.
Zawawi meminta Pemerintah Kabupaten Jember membaca tanda-tanda zaman dan tanda-tanda sosial di masyarakat dalam membangun kebudayaan. Pembacaan tanda-tanda ini yang kemudian dikembangkan untuk pembangunan kebudayaan di Jember. [wir/kun]






