Magetan (beritajatim.com) – Para pengrajin rumahan tempe di Magetan hanya bisa pasrah dengan kenaikan bahan baku, kedelai. Dua pekan ini harga kedelai naik hingga angka Rp 11.000 per kilogram padahal sebelumnya hanya di angka Rp 9.500 per kilogram. Tidak ingin merugi para pengrajin terpaksa mengurangi ukuran tempe.
“Habis bagaimana lagi, naikkan sudah, kedelai kembali naik, masa saya naikkan lagi. Ya terpaksa saat ini saya akali dengan mengurangi ukuran tempenya. Ini saja hanya balik modal, pak puk jika dipotong upah para pekerja,” kata Sarmi 57 tahun pengrajin tempe di desa Banyudono Kecamatan Ngariboyo, Senin (17/01/2022).
Sarmi baru dapat untuk jika harga kedelai Rp. 8000 hingga Rp.9000 per kilogramnya. Dirinya sempat menaikkan harga tempe daunyakni di harga Rp. 4000 per 10 biji, sebelumya dijual Rp. 3000,- per 10 biji. Meski naik Rp. 1000 per 10 biji pengrajin mengaku baru balik modal. Itupun sudah mendapatkan komplain dari pembeli.
Para pengrajin mengaku hanya bisa pasrah sembari berharap kepada Pemerintah untuk menstabilkan dan menurunkan harga kedelai impor ini. Bila tidak para pengrajin tempe tidak akan bisa bertahan hingga bulan depan.
[berita-terkait number=”4″ tag=”harga-kedelai”]
Kenaikan harga kedelai ini dibenarkan oleh Galih, salah satu pedagang di pasar sayur Magetan. Kenaikan terjadi sejak dua pekan ini. Semula Rp 9.500 per kg naik naik hingga saat ini Rp. 11.000 per kg
” Kenaikan ini karena stok kedelai sedikit, akibat pamdemi sehinga pengiriman kedelai impor dari luar negeri tertunda. Mungkin juga dikenai biaya tambahan karantina di pelabuhan,” katanya.
Lebih lanjut dikatakan pedagang, kenaikan harga kedelai ini juga turut mempengaruhi penjualan. Sepi pembeli karena mahal. Selain kedelai impor, harga kedelai lokal juga alami kenaikan, saat ini kedelai lokal diharga Rp. 15.000 per kg. Dirinya berharap harga kedelai bisa kunjung stabil. (ted)






