Ponorogo (beritajatim.com) – Budidaya tanaman porang, dewasa ini menjadi salah satu bisnis yang menjanjikan. Sebab, umbi porang kini dibutuhkan untuk kebutuhan industri. Tak ayal, ini merupakan prospek ekonomi yang bagus untuk masyarakat.
Salah satu pondok pesantren (ponpes) di Ponorogo, yakni ponpes Minhajul Muna menangkap peluang yang menghasilkan cuan tersebut. Yakni dengan mengembangkan budidaya porang.
Letak geografis ponpes tersebut, juga sangat mendukung budidaya porang, yakni terletak di wilayah perbukitan di Kecamatan Ngrayun. Tepatnya di Dusun Sambi Desa Ngrayun. Ponpes Minhajul Muna sudah membudidayakan porang sejak empat tahun terakhir.
Lahan yang dimiliki ponpes, kini seluruhnya ditanami porang. Bahkan karena kebutuhan pasar yang cukup besar, pihak ponpes juga bekerja sama dengan masyarakat dengan sistem bagi hasil.
“Selain belajar agama, kami juga diajarkan pertanian, terutama budidaya tanaman porang,” Kata salah satu santri Ponpes Minhajul Muna, Imam Syaifuddin, Rabu (12/1/2022).
Saat ini jumlah tanaman porang yang dimiliki pesantren mencapai sepuluh ribu batang. Guru dan santri dilibatkan dalam budidaya tanaman ini. Mulai dari proses penanaman, perawatan, hingga proses panen dan penjualan. Imam menyebut kegiatan berladang menanam porang ini membuat dirinya senang. Sebab, selain menghilangkan rasa jenuh, ia juga dapat ilmu di bidang pertanian.
“Merawat tanaman porang bisa menghilangkan jenuh, selain itu yang tidak kalah penting, juga menambah ilmu di bidang pertanian,” Ungkap Imam Syaifuddin.
Sementara itu, pimpinan Ponpes Minhajul Muna, Aminuddin menyebut bahwa kegiatan berladang ini akhirnya menjadi salah satu pelajaran yang harus diberikan kepada para santri. Hal tersebut bertujuan untuk membekali mereka dengan ilmu. Agar kelak siap menjadi individu yang mandiri saat kembali ke masyarakat.
“Saat terjun di masyarakat, para santri ini sudah punya bekal di bidang pertanian terutama budidaya tanaman porang,” ungkapnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”tanaman-porang”]
Amiruddin mengungkapkan bahwa latar belakang ponpes menanam porang ini tidak lain karena kondisi geografis di Kecamatan Ngrayun. Berada di wilayah perbukitan, tanahnya cukup potensial untuk tanaman porang.
“Sekali panen, rata-rata porang yang dihasilkan ladang milik ponpes bisa mencapai 10 ton,” katanya.
Hasil penjualan porang ini, swlain menambah kesejahteraan para guru, juga bisa digunakan untuk biaya operasional pesantren. Saat ini, hampir seluruh masyarakat di Kecamatan Ngrayun menanam porang. Besarnya permintaan pasar, membuat komoditas ini cukup menjanjikan. Kesejahteraan masyarakat pun lambat laun juga akan meningkat.
“Meski kini harganya mengalami penurunan, namun masyarakat tetap optimis, suatu saat akan meningkatkan,” pungkasnya. (end/ted)






