Surabaya (beritajatim.com) – Beberapa hari lalu beredar video seorang lelaki membuang sesajen yang diperkirakan terjadi di desa Pronojiwo, Lumajang. Lelaki berbaju abu-abu lengkap dengan rompi dan topi berwarna hitam tersebut tampak membuang sesajen yang ada di beberapa tempat di wilayah erupsi Gunung Semeru.
Pria tersebut, bersama seseorang yang merekam video mengucapkan bahwa sesajen lah yang membuat murka Allah. Seolah diartikan sebagai penyebab timbulnya bencana di area gunung semeru.
Hal tersebut lantas menimbulkan respon dari berbagai pihak. Salah satunya ialah Bupati Lumajang, Thoriqul Haq. Dalam sebuah unggahan video yang viral, ia menuliskan pesan di dalam grup WhatsApp untuk segera mencari orang-orang yang melakukan tindakan tersebut. Selain untuk mengklarifikasi juga agar masyarakat tahu bahwa hal ini tidak patut untuk dicontoh.
Selain itu Bupati yang merasa kecewa, segera berkoordinasi dengan Kapolres untuk mengidentifikasi pelaku, mulai dari identitas warga asal mana dan dari golongan kelompok apa. Karena dalam situasi bencana seperti ini yang diutamakan ialah unsur kemanusiaan.
Selama ini masyarakat Lumajang dikenal damai dengan kepercayaannya yang berbeda-beda. Tidak melulu dengan satu keyakinan saja, bahkan selama bertahun-tahun mereka semua hidup berdampingan dengan berbagai unsur di dalamnya. Tak ayal jika seharusnya masyarakat di dalam maupun di luar Lumajang bisa saling menghargai budaya dan kepercayaan umat yang lain.
Meski banyak masyarakat yang kontra dengan tindakan pria yang menendang dan membuang sesajen di Lumajang, namun tak sedikit pula yang pro dengan hal tersebut. Hingga membuat Alissa Wahid, putri presiden keempat Abdurrahman Wahid, angkat bicara.
Ia mengatakan jika seseorang meyakini sesajen adalah hal yang dilarang, maka boleh-boleh saja. Namun, memaksakan hal itu pada orang-orang yang meyakininya, tentu itu yang tidak boleh.
Dalam akun twitternya Alissa juga mengatakan bahwa memang repot menghadapi orang-orang seperti itu. Terlebih susah memahami bahwa dunia bukan sekadar milik kelompoknya saja. Kapolres Lumajang AKBP Eka Yekti bersama anggota dan bantuan relawan di lapangan pun kini masih mencari pria dalam video tersebut.
Rencananya jika sudah temukan hal yang paling utama ialah mengidentifikasi dan meminta klarifikasi mengenai maksud tindakan intoleransi tersebut. Jika tujuannya ke lokasi bencana bukan semata-mata untuk kemanusiaan atau bahkan terdapat agenda dan unsur lainnya, maka tentu saja pria tersebut diminta untuk segera keluar dari Kabupaten Lumajang. [fyi/tur]






