Pamekasan (beritajatim.com) – Kemajuan teknologi dan informasi pada era disrupsi seperti saat ini, merupakan momentum tepat untuk mempraktikkan konsep dan model dakwah secara tepat, efisien dan tentunya bermanfaat.
Hal tersebut disampaikan Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi, saat mengisi materi Ngaji Dakwah Milenial pada ajang internasional Pekan Ngaji 7 Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Panaan, Palengaan, Pamekasan, Jum’at (7/1/2022).
Dalam program ‘ngaji’ yang mengusung tema ‘Menjadi Pendakwah Milenial untuk Masyarakat Global’ tersebut, Habib Muhammad Habsyi juga menceritakan secara singkat berbagai konsep dakwah ala Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
“Seperti kita ketahui bersama bahwa dakwah Nabi sangat indah, sabar dalam menghadapi umat dan tidak pernah membalas umat dengan kejahatan, sekalipun beliau disakiti saat berdakwah,” kata Habib Muhammad Habsyi.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pekan-ngaji”]
Bahkan pada awal melakukan dakwah untuk menyeruh pada agama Tauhid, sebagian besar keluarga Nabi sendiri justru menolak, kecuali Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhahu, yang merupakan sepupu dan putra dari sang paman, Abu Thalib.
“Dalam melaksanakan dakwah, Rasulullah justru mendapat penolakan dari sebagian besar keluarga beliau, kecuali Ali bin Abi Thalib. Sehingga Rasulullah mencoba berdakwah dengan mendekati perorangan, salah satunya Abu Bakar Al-Shiddiq Radiyallahu ‘Anhu,” ungkapnya.
Tidak hanya itu, Rasulullah juga melakukan dakwah dengan cara mendatangi sejumlah kabilah Arab. Meskipun sempat mendapat berbagai penolakan, akhirnya dakwah Nabi berbuah hasil sekalipun hanya sekitar 8 (delapan) orang warga Yatsrib (saat ini Madinah Al-Munawwarah).
“Strategi dakwah Nabi memiliki semangat dan motivasi yang kuat, beliau berdakwah dengan harta yang dimiliki, dengan ilmu dan wahyu yang diterima dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan dengan segala hal yang beliau miliki,” tegasnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pekan-ngaji”]
Model dan strategi dakwah Nabi tentunya menjadi spirit bagi seluruh umat Islam, termasuk dakwah yang harus dilakukan di Indonesia, khususnya seiring dengan kemajuan teknologi dan informasi di era disrupsi seperti saat ini.
“Saat ini hampir 90 persen rakyat Indonesia, sudah menggunakan media sosial. Hal ini tentunya menjadi momentum untuk memperluas dakwah. Karena itu masyarakat khususnya para penceramah agar memanfaatkan media sosial, tentunya dengan menggunakan metode nasihah dan bukan ‘adawah,” jelasnya.
Saran tersebut bukan tanpa alasan, sebab pihaknya menilai saat ini masyarakat Indonesia sangat tidak suka dengan sesuatu yang rumit. Sehingga konsep dakwah harus bersifat mudah dan bermanfaat. “Tidak kalah penting, berdakwah itu tidak hanya di atas mimbar ataupun panggung, di media sosial juga sangat memungkinkan,” pungkasnya. [pin/kun]






