Sidoarjo (beritajatim.com) – Bupati Sidoarjo H. Ahmad Muhdlor Ali mengapresiasi inovasi dibidang pendidikan dengan dibangunnya Boarding School di Madrasah Muslimat NU Sidoarjo. Oleh bupati, hal itu dinilai sebagai salah satu langkah mencerdaskan bangsa.
Selain itu untuk menjamin terlaksananya pendidikan dasar sebagai implementasi wajib belajar 12 tahun atau Program Menengah Universal (PMU).
“Apalagi di tengah pandemi seperti ini, program boarding school banyak memberikan manfaat. Karena banyak siswa tidak banyak melakukan interaksi secara fisik dengan pihak luar, sehingga meminimalisir potensi penyebaran Covid-19 di lingkungan sekolah maupun tempat tinggalnya,” kata Bupati H. Ahmad Muhdlor Ali saat menghadiri Grand Opening Boarding School dan peresmian pembangunan gedung tahap 4 di Lembaga Pendidikan Muslimat NU Sidoarjo bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Kamis (6/1/2022).
Seiring dengan melandainya penyebaran Covid -19 di wilayah Sidoarjo, pemerintah pusat melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri memberikan izin kepada Pemkab Sidoarjo untuk menggelar Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 persen. “PTM di Kabupaten Sidoarjo sudah dilaksanakan sejak Senin kemarin. Murid sebagian besar sudah divaksin.” terangnya.
Bupati muda yang akrab disapa Gus Muhdlor itu menjelaskan, selepas liburan Natal dan Tahun Baru kemarin Kabupaten Sidoarjo nol kasus Covid-19. Ini menandakan tingginya tingkat kesadaran warga Sidoarjo dalam menerapkan protokol kesehatan.
“Kondisi seperti ini harus kita pertahankan , mengingat sebaran covid-19 yang baru (omnicron) sudah terdeteksi di Jawa Timur,” tuturnya.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa terus memantau perkembangan lembaga sekolah yang dikelola Muslimat NU Sidoarjo itu.
Menurutnya, perkembangannya cukup pesat dari mulai sekolah tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah hingga Aliyah. Dan sekarang dibuka Boarding School dengan menerapkan konsep pembelajaran bilingual atau dua bahasa (bahasa Inggris dan Arab).
[berita-terkait number=”4″ tag=”muslimat-nu”]
“Ini sebetulnya kalau dihitung ada bahasa Indonesianya, jadi masuk Trilingual karena kalau dua bahasa yaitu bahasa Arab-Inggris saja masuknya bilingual. Tapi kalau Trilingual ada tiga bahasa. Ini menjadi bagian penting karena bahasa bisa untuk membangun koneksitas, diantara berbagai jejaring terutama di luar negeri,” terangnya.
Ketika anak-anak disiapkan untuk menguasai bahasa asing yang menjadi standar belajar ini bagian dari standar kesiapan kita untuk masuk pada komunikasi global. Ditambah dengan proses pendidikan yang sudah menggunakan transformasi digital.
“Kita akan terus meningkatkan kualitas SDM dengan memberikan penguatan kekuatan dari akademik achievement dan kekuatan dari spiritualitas yang dibangun secara konvergensi di sekolah ini. Metode ini bisa direplikasikan ke sekolah lain di Sidoarjo,” pungkasnya. [isa/suf]







