Surabaya (beritajatim.com) – Bloody Sunday. Jika mau mencari, ada banyak tragedi kemanusiaan yang terjadi di seluruh dunia. Terutama di masa dulu ketika dunia masih menuju modern.
Salah satu yang paling terkenal adalah bloody sunday pada Minggu, 30 January tahun 1972. Kala itu, anggota Angkatan Darat Inggris melakukan aksi penembakan ke arah demonstran yang ada di Derry, Irlandia dan menewaskan 13 orang.
Dekade selanjutnya, tragedi kemanusiaan tersebut kembali terjadi di London. Tepatnya pada hari Minggu, 13 November 1887. Tragedi minggu berdarah ini terjadi di Trafalgar Square sebagai puncak ketegangan antara polisi dan demonstran di London yang telah melakukan demonstrasi selama satu bulan.
Aksi demonstrasi yang dilakukan para penganggur berlangsung di alun-alun setiap hari sejak musim panas. Disana ada pria dan wanita yang sedang bersantai adn melakukan aktivitas di air mancur. Selain itu, di bawah tekanan dari pers mereka mulai menangani situasi yang dianggap memalukan untuk metropolis besar.
Berawal dari polisi melakukan pertemuan disperse di alun-alun dari 17 th Oktober karena sering menggunakan kekerasan sehingga ketegangan berlanjut, akibat bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa, dan Penguasa Dalam Negeri Irlandia menggunakan alun-alun untuk protes.
Saat kejadian demonstrasi, London berubah menjadi “kamp bersenjata”. Disana 1.500 polisi berbaris di alun-alun hingga kedalaman 4 dari polisi berkuda, Penjaga Kehidupan, dan Penjaga Grenadier. Bahkan ratusan Polisi Khusus, dan relawan yang menginginkan perdamaian di kota mereka ikut hadir.
Pengunjuk rasa mendekati Trafalgar Square dari segala arah, tetapi disergap oleh polisi dengan tongkat sekitar setengah mil sebelum mereka mencapai tujuan.Namun, beberapa pengunjuk rasa berhasil mencapai alun-alun sehingga pertempuran jalanan yang kejam berlanjut sepanjang hari.
Alhasil, Hari itu menjadi kemenangan gemilang polisi karena mereka tidak menggunakan senjata selain pentungan. Namun, mereka melukai 200 demonstran dan membunuh 2 atau 3. Hal ini dikarenakan penyelenggara pawai menyerukan para demonstran untuk tidak menggunakan kekerasan, dan cedera di pihak polisi sehingga itu minimal, meskipun 2 petugas polisi dilaporkan ditikam.
Sebuah pembelajaran dari pemeriksaan resmi yang menyarankan agar polisi memerintahkan pentungan yang lebih kuat, karena begitu banyak yang rusak; sehingga pihak berwenang tidak merasa ragu tentang tingkat kekuatan yang digunakan.
Sedangkan untuk i para aktivis, Minggu Berdarah dikenang sebagai salah satu represi yang kejam dan kejam karena para pengunjuk rasa tewas menjadi martir bagi gerakan buruh. [prd/tur]






